AS Serang Iran Usai Kapal Minyak Diserang Drone, Konflik Membara?
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah insiden serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz.
Washington melancarkan operasi militer ke sejumlah target di Iran sebagai respons atas serangan drone yang menghantam kapal tanker komersial saat melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.
Peristiwa ini menjadi ujung terbaru dari konflik kedua negara, meskipun keduanya masih berada dalam masa gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati untuk membuka jalan menuju perundingan damai.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan setelah kapal tanker M/T Kiku berbendera Panama diserang drone pada Sabtu pagi waktu setempat.
Baca Juga: Iran Digempur AS, Kesepakatan Damai Mulai Terancam?
Kapal tersebut dilaporkan mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah ketika insiden terjadi di sekitar Selat Hormuz.
Dalam operasi balasan itu, militer AS menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, fasilitas pertahanan udara, lokasi penyimpanan drone, hingga kemampuan penebar ranjau.
“Iran telah diberi kesempatan untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata, namun memilih untuk tidak melakukannya ketika pasukannya meluncurkan drone serang satu arah yang menghantam M/T Kiku pagi ini pukul 04.30 ET,” tulis CENTCOM.
Meski demikian, pihak militer AS memastikan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz masih berlangsung normal dan jalur pelayaran tetap terbuka.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi kawasan tersebut.
Gencatan Senjata Kembali Dipertanyakan
Serangan terbaru terjadi ketika AS dan Iran masih menjalani masa gencatan senjata selama 60 hari yang sebelumnya disepakati sebagai langkah awal menuju penyelesaian konflik.
Namun dalam beberapa hari terakhir, kedua negara saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut.
Sehari sebelum serangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran melakukan “pelanggaran bodoh” terhadap gencatan senjata setelah serangkaian serangan drone terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan Hormuz.
CENTCOM juga mengungkap bahwa pesawat tempur AS telah menyerang sejumlah lokasi penyimpanan rudal dan drone milik Iran, termasuk beberapa pos radar di wilayah pesisir.
Selain itu, melalui unggahan di platform X, militer AS menyebut Iran diduga terlibat dalam serangan drone terhadap kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, di perairan dekat Oman pada Kamis lalu.
Meski terkena serangan, kapal tersebut dilaporkan tetap melanjutkan pelayaran melewati Selat Hormuz.
Baca Juga: Trump Ingin Dana Iran DIbeli untuk Produk Pertanian Amerika
Iran Balas Kritik dan Tuduhan AS
Eskalasi terbaru terjadi lebih dari sepekan setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman yang ditujukan untuk membuka jalan menuju perjanjian damai permanen.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah memberikan respons terhadap serangan militer AS dengan menyerang posisi Amerika di kawasan tersebut.
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai tindakan Washington menunjukkan kurangnya komitmen terhadap jalur diplomasi.
“Presiden AS yang gagal itu telah menunjukkan bahwa ia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi atau gencatan senjata,” kata Azizi.
Ia juga memperingatkan bahwa langkah yang diambil AS berpotensi membawa dampak negatif bagi Washington sendiri.
“Pelanggaran gencatan senjata yang ceroboh ini, seperti biasa, akan berujung pada mundurnya mereka dan penyesalan di pihak mereka. Saling menyalahkan tidak lagi efektif,” tegasnya.
Meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Apabila konflik terus berlanjut, gangguan terhadap jalur distribusi minyak global berpotensi memengaruhi pasar energi internasional dalam beberapa pekan mendatang.
