China-Rusia Patroli Udara, Jepang Langsung Siaga Tempur
China dan Rusia kembali menggelar patroli udara strategis gabungan menggunakan pesawat pengebom serta jet tempur di wilayah Laut Jepang, Laut China Timur, hingga Pasifik Barat pada Sabtu (27/6/2026). Manuver militer tersebut langsung mendapat respons dari Jepang dan Korea Selatan yang menerbangkan pesawat tempur untuk memantau aktivitas kedua negara.
Kementerian Pertahanan China menyatakan patroli ini merupakan operasi strategis gabungan ke-11 yang dilakukan angkatan udara China dan Rusia sejak 2019, sekaligus menjadi patroli pertama yang digelar sepanjang 2026.
Baca Juga : Hadapi Ancaman Korut, Korsel Siapkan 500 Ribu Pasukan Drone
Menurut Beijing, operasi tersebut mencerminkan komitmen kedua negara dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan melalui kerja sama militer yang semakin erat.
Jepang Pantau Pergerakan Pesawat China dan Rusia
Mengutip The Japan Times, Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan pihaknya memonitor dua formasi penerbangan berbeda yang melibatkan empat pesawat pengebom H-6 milik China serta dua pesawat pengebom strategis Tu-95 milik Rusia.
Selain pesawat pengebom, patroli gabungan itu juga melibatkan dua pesawat patroli maritim Tu-142 Rusia, dua jet tempur J-16 milik China, dan satu jet tempur Su-30 Rusia.
Berdasarkan peta jalur penerbangan yang dirilis pemerintah Jepang, sebagian pesawat pengebom melintas melalui Selat Miyako di dekat Prefektur Okinawa sebelum memasuki kawasan Pasifik Barat hingga wilayah selatan Pulau Shikoku. Setelah itu, armada kembali melalui rute yang sama.
Selat Miyako dikenal sebagai jalur strategis yang menghubungkan Laut China Timur dengan Samudra Pasifik sehingga kerap menjadi lintasan operasi militer China.
Korea Selatan Ikut Terbangkan Jet Tempur
Korea Selatan juga mengambil langkah serupa dengan mengerahkan pesawat tempur setelah lebih dari 10 pesawat militer China dan Rusia memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) miliknya pada hari yang sama.
Berdasarkan laporan Yonhap yang dikutip South China Morning Post, seluruh pesawat tersebut tetap berada di luar wilayah udara Korea Selatan sehingga tidak terjadi pelanggaran ruang udara nasional.
Meski demikian, militer Seoul tetap melakukan pemantauan intensif sebagai langkah antisipasi terhadap aktivitas militer di kawasan.
Baca Juga : Indonesia Bersama UEA Segera Bahas Keanggotaan CPTPP
Jepang Nilai Aktivitas Militer Makin Mengkhawatirkan
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menilai patroli pengebom gabungan yang rutin dilakukan China dan Rusia menunjukkan meningkatnya intensitas serta cakupan aktivitas militer kedua negara di sekitar wilayah Jepang.
Menurutnya, operasi semacam itu merupakan demonstrasi kekuatan yang berpotensi meningkatkan risiko terhadap keamanan nasional Jepang.
South China Morning Post juga melaporkan patroli terbaru berlangsung ketika hubungan China dan Jepang masih dibayangi berbagai isu sensitif, termasuk persoalan Taiwan serta peningkatan kemampuan militer Jepang yang terus mendapat kritik dari Beijing.
