Iran Ancam Kapal Dagang yang Hindari Jalur Selat Hormuz
Iran mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal dagang internasional agar tetap melintasi rute yang telah ditetapkan Teheran di Selat Hormuz. Pemerintah Iran menilai penggunaan jalur alternatif justru berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, sebagaimana dilaporkan AFP.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya kembali ketegangan setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat aksi saling serang di kawasan Teluk pada Minggu (28/6/2026).
Insiden terbaru itu juga memperlihatkan rapuhnya nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik antara Iran dengan AS dan Israel yang telah berlangsung sejak Februari.
Baca Juga : Jepang Siaga Tempur, China-Rusia Lakukan Patroli Udara
Meski gencatan senjata resmi diberlakukan pada April lalu, bentrokan sporadis masih terus terjadi. Selat Hormuz pun kembali menjadi titik krusial yang memicu ketegangan di kawasan.
Iran Tolak Jalur Alternatif Oman
Reaksi keras Teheran dipicu oleh pengumuman Oman mengenai jalur pelayaran alternatif di Selat Hormuz yang berada di sepanjang pesisir negara tersebut.
Pemerintah Muscat menyatakan jalur baru itu disusun melalui koordinasi dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Sejumlah kapal dagang dilaporkan mulai memanfaatkan lintasan baru tersebut dengan berlayar lebih dekat ke wilayah Oman. Selama ini, Iran menginginkan seluruh kapal tetap menggunakan koridor pelayaran yang berada di dekat wilayah pantainya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa perubahan jalur pelayaran dapat memicu konsekuensi serius bagi stabilitas kawasan.
“Setiap upaya untuk mengadopsi pengaturan baru atau terpisah dibandingkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Republik Islam Iran, hanya akan menyebabkan situasi yang lebih rumit dan penundaan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz, serta akan meningkatkan ketegangan,” ujar Araghchi.
Dalam teks nota kesepahaman yang telah dipublikasikan, Iran menyatakan pengelolaan Selat Hormuz ke depan akan dibahas bersama Oman dan negara-negara Teluk lainnya dengan tetap mengacu pada hukum internasional.
IRGC Tegaskan Pengawasan Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan pihaknya kini memperketat pengawasan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
IRGC menegaskan setiap kapal yang dianggap melanggar aturan akan menghadapi tindakan yang lebih tegas dibandingkan sebelumnya.
Pernyataan senada juga disampaikan penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber.
Melalui unggahannya di platform X, ia menegaskan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz menjadi faktor penting untuk membatasi pengaruh Amerika Serikat di kawasan.
“Selama Iran mengelola selat tersebut, mimpi hegemoni Washington di kawasan ini tidak akan terwujud,” tulis Mokhber.
Perebutan Kendali Selat Hormuz
Berdasarkan ketentuan hukum internasional, Selat Hormuz berada di wilayah perairan teritorial Iran dan Oman. Dalam kondisi normal, kedua negara tidak diperkenankan menutup jalur pelayaran internasional maupun mengenakan biaya kepada kapal yang melintas.
Namun selama konflik berlangsung, Iran beberapa kali membatasi akses kapal melalui jalur sempit tersebut. Langkah itu memberikan keuntungan strategis sekaligus meningkatkan posisi tawar Teheran dalam dinamika geopolitik kawasan.
Baca Juga : Putin Tegaskan Rusia Tidak Akan Mundur dari Ukraina, Kenapa?
Sebelum konflik memanas, Iran tidak memiliki kontrol sebesar saat ini terhadap jalur pelayaran tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak global serta sebagian besar pengiriman gas alam cair (LNG) melintasi kawasan ini.
Pengamat dari Royal United Services Institute (RUSI), HA Hellyer, menilai tekanan yang dilakukan Iran di Selat Hormuz merupakan bagian dari strategi politik untuk memperkuat posisi tawarnya dalam perundingan.
“Bagi Iran, negosiasi yang berlarut-larut disertai dengan tekanan yang terkendali di selat tersebut dapat menguntungkan posisi mereka,” pungkas Hellyer.
