Gas Uni Eropa Terancam Habis, Harga Energi Diprediksi Melonjak
Uni Eropa (UE) menghadapi ancaman kekurangan pasokan gas menjelang musim dingin mendatang. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan biaya energi bagi rumah tangga maupun dunia usaha karena tingkat cadangan gas diperkirakan menjadi yang terendah dalam 15 tahun terakhir.
Mengutip Financial Times yang mengacu pada proyeksi konsultan Wood Mackenzie, kapasitas penyimpanan gas di Uni Eropa diperkirakan hanya akan terisi sekitar 76% pada akhir periode pengisian ulang April hingga Oktober.
Baca Juga : Iran Bantah Klaim Trump Terkait Pertemuan di Qatar
“Tingkat tersebut akan menjadi level pra-musim dingin terendah sejak 2011,” tulis laporan tersebut, dikutip Selasa (30/6/2026).
Tekanan terhadap pasokan energi di kawasan Eropa semakin besar setelah negara-negara anggota secara bertahap mengurangi impor minyak dan gas dari Rusia sejak konflik Ukraina meningkat empat tahun lalu. Akibat kebijakan tersebut, Uni Eropa kini lebih bergantung pada pasokan gas alam cair (LNG) yang harganya lebih mahal, terutama dari Amerika Serikat (AS), sebagai pengganti gas pipa Rusia yang sebelumnya menjadi sumber energi utama.
Situasi diperkirakan semakin menantang karena Uni Eropa telah menetapkan rencana penghentian impor LNG asal Rusia mulai 1 Januari 2027. Kebijakan itu merupakan bagian dari regulasi yang disepakati seluruh negara anggota pada Januari 2026 untuk mengurangi ketergantungan energi terhadap Moskow secara bertahap.
Jika kebijakan tersebut diterapkan, sekitar 14% pasokan LNG yang masih berasal dari Rusia akan hilang dari pasar Eropa. Di saat yang sama, distribusi LNG global juga menghadapi tekanan akibat gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz selama konflik AS-Iran, serta penurunan produksi di Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).
Wood Mackenzie memperkirakan harga gas masih berpotensi meningkat menjelang musim dingin, terutama apabila Eropa mengalami suhu yang lebih dingin dari normal pada awal 2027.
Sejalan dengan itu, analis Argus Media, Natasha Fielding, menilai pasar LNG global masih berada dalam kondisi pasokan yang ketat. Menurutnya, semakin rendah cadangan gas Eropa saat memasuki musim dingin, semakin besar pula risiko lonjakan harga energi.
Berdasarkan laporan Financial Times, fasilitas penyimpanan gas Uni Eropa sempat berada di level 28% pada awal musim pengisian setelah kawasan tersebut melewati musim dingin yang lebih dingin dari biasanya. Meskipun kini tingkat pengisian telah meningkat menjadi sekitar 48%, angka tersebut dinilai masih menunjukkan tantangan besar untuk memenuhi target cadangan sebelum musim dingin tiba.
Di sisi lain, meningkatnya ketergantungan Uni Eropa terhadap pasokan energi dari Amerika Serikat juga memunculkan kekhawatiran. Laporan Politico sebelumnya menyebut sekitar seperempat impor gas Uni Eropa kini berasal dari AS.
Baca Juga : Pemerintah Iran Desak Aset di Qatar Segera Dicairkan, Capai Triliunan!
Sejumlah diplomat menilai posisi tersebut berpotensi dimanfaatkan Washington sebagai instrumen dalam kebijakan luar negeri. Bahkan pada pekan lalu, AS dikabarkan mengancam mengalihkan ekspor LNG ke pasar lain apabila Brussel tetap menerapkan regulasi emisi metana yang lebih ketat.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan negaranya siap mengalihkan ekspor gas ke negara-negara berkembang apabila akses ke pasar Eropa semakin tertutup. Menurut Putin, krisis energi yang dihadapi Uni Eropa merupakan dampak dari kebijakan energi yang selama ini dinilainya keliru.

[…] Gas Uni Eropa Terancam Habis, Harga Energi Diprediksi Melonjak […]