Presiden Iran Desak Rp107 T Aset di Qatar Segera Dicairkan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa aset Teheran senilai US$6 miliar atau sekitar Rp107,4 triliun yang masih dibekukan di Qatar harus segera dicairkan dan dikembalikan ke Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dengan merujuk pada kesepakatan yang sebelumnya dicapai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dalam rangkaian perundingan yang dimediasi pihak ketiga.
Baca Juga: Utusan Trump ke Moskow Ditunggu Putin, Bahas Damai Ukraina
Ia menjadi pejabat tertinggi Iran yang secara terbuka menyinggung pencairan aset yang disimpan di Qatar, yang selama ini berperan sebagai mediator utama dalam dialog antara Teheran dan Washington.
“Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, aset Iran sebesar US$ 6 miliar, dari total US$ 12 miliar, yang ada di Qatar seharusnya dicairkan dan dikembalikan ke negara ini,” kata Pezeshkian dalam pernyataannya, seperti dikutip kantor berita IRNA.
Ia menambahkan bahwa proses tindak lanjut terkait pengembalian sisa dana tersebut masih terus berjalan.
Pezeshkian juga menyebut nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS sebagai “kemenangan besar bagi rakyat Iran”, serta mengklaim bahwa sanksi terkait minyak dan petrokimia telah dicabut sesuai kesepakatan tersebut.
Namun hingga kini, pejabat Amerika Serikat menyatakan belum ada pencairan aset Iran yang dilakukan.
Ketegangan terbaru antara kedua negara kembali meningkat setelah terjadi aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz pada akhir pekan lalu, yang turut memengaruhi jalannya negosiasi.
Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Bahrain dan Kuwait yang menjadi lokasi aset serta fasilitas militer AS, sementara Washington menuding Teheran melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal kargo di jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga: Tarif 100 Persen Diancam Trump untuk Negara Pemungut Pajak Digital
AS kemudian mengklaim telah melakukan respons militer terhadap apa yang disebut sebagai “agresi yang tidak beralasan oleh pasukan Iran terhadap pelayaran komersial”.
Meski demikian, pihak mediator disebut telah membangun kembali saluran komunikasi untuk meredakan ketegangan, sementara pembicaraan teknis antara kedua negara masih akan terus berlanjut.
Dua pekan sebelumnya, Iran dan AS telah menandatangani MoU yang mencakup penghentian permusuhan di berbagai front, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz serta pelonggaran blokade terhadap pelabuhan Iran, meski implementasinya kini kembali diuji akibat eskalasi terbaru.
