AS Disebut Dipermalukan Iran, Ini Sindiran Keras Raksasa NATO
Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat, dengan menilai posisi Washington kini melemah di hadapan Iran. Ia bahkan menyebut Negeri Paman Sam tengah “dipermalukan” oleh kecerdikan strategi diplomasi Teheran.
Mengutip The Guardian, pernyataan tersebut disampaikan Merz saat berbicara di depan mahasiswa di Marsberg. Ia menilai pemerintahan Presiden Donald Trump tidak mampu mengimbangi gaya negosiasi Iran yang dinilainya cenderung berlarut-larut tanpa hasil konkret.
Baca Juga : Trump Isyaratkan Penolakan Terhadap Proposal Terbaru Iran
“Orang-orang Iran jelas sangat terampil dalam bernegosiasi, atau lebih tepatnya sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan orang-orang Amerika datang dan pergi tanpa hasil apapun,” ujar Merz.
Ia menambahkan bahwa kebuntuan diplomasi tersebut menjadi pukulan bagi citra global AS. Selain itu, Merz juga menyoroti peran Pengawal Revolusi Iran yang dianggap sebagai aktor utama di balik sikap keras Teheran.
“Seluruh bangsa sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh kelompok yang disebut Pengawal Revolusi ini. Dan saya berharap hal ini berakhir secepat mungkin,” tegasnya.
Pernyataan Merz muncul setelah Trump membatalkan rencana kunjungan tim negosiator AS ke Islamabad untuk melanjutkan dialog tidak langsung dengan Iran. Sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance telah memimpin delegasi ke Pakistan, namun pertemuan tersebut belum menghasilkan perkembangan signifikan.
Di sisi lain, Trump sempat menegaskan bahwa posisi AS jauh lebih kuat dibanding Iran. Ia menyebut bahwa Teheran seharusnya mengambil langkah lebih dulu untuk membuka komunikasi.
“Kami memegang semua kartu. Jika Teheran ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Baca Juga : AS Masih Tinjau 14 Poin Proposal Damai Iran, Akhir Perang Dipertanyakan
Namun, pernyataan berbeda datang dari pihak Iran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa tekanan ekonomi dari AS tidak melemahkan negaranya. Ia bahkan menilai dunia kini mulai menyadari kekuatan Iran yang sebenarnya.
“Dunia kini telah menyadari kekuatan sejati Iran. Telah menjadi jelas bahwa Republik Islam Iran adalah sistem yang stabil, solid, dan kuat,” ujar Araghchi.
