AS Gunakan Senjata Canggih untuk Serang Iran, Incar Ribuan Orang
Militer Amerika Serikat dilaporkan menyiapkan teknologi senjata berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu membantu menentukan hingga 1.000 target dalam waktu 24 jam dalam operasi militer terhadap Iran.
Tiga sumber menyebutkan sistem tersebut adalah Maven Smart System, platform analisis militer yang dikembangkan perusahaan pengolah data Palantir Technologies. Sistem ini juga mengintegrasikan model AI Claude milik Anthropic.
Baca Juga : Pesawat Militer Australia Meluncur ke Timur Tengah, Evakuasi Warga!
Sistem Maven dirancang untuk menghasilkan pemahaman dari data intelijen dalam jumlah sangat besar. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan target serangan serta memprioritaskannya secara real-time dalam operasi militer di Iran.
Dua sumber menyebutkan bahwa selama tahap perencanaan serangan, sistem ini mampu merekomendasikan ratusan target potensial. Maven juga disebut memberikan koordinat lokasi secara detail serta menentukan prioritas target berdasarkan tingkat kepentingannya.
Sementara menurut seorang sumber, Maven yang dipadukan dengan Claude memiliki sejumlah kemampuan. Salah satunya dapat mengurangi kemampuan Iran melakukan serangan balasan serta dapat mengevaluasi serangan setelah diluncurkan.
Menurut seorang sumber lain, kombinasi Maven dengan AI Claude memiliki sejumlah kemampuan tambahan. Salah satunya adalah membantu melemahkan potensi serangan balasan dari Iran serta mengevaluasi dampak serangan setelah operasi dilaksanakan.
Teknologi ini sebelumnya juga pernah dimanfaatkan untuk mendeteksi rencana aksi teror serta operasi penggerebekan terhadap Presiden Nicolás Maduro di Venezuela.
Namun, konflik Iran menjadi salah satu operasi perang terbesar yang menggunakan teknologi tersebut.
Meski digunakan dalam operasi militer, posisi teknologi Claude di pemerintahan AS tidak sepenuhnya stabil.
Sebelumnya, Pentagon sempat membatasi penggunaan teknologi tersebut karena negosiasi terkait aturan pemanfaatannya dalam operasi militer.
Bahkan, Presiden Donald Trump pernah mengumumkan larangan bagi lembaga pemerintah untuk menggunakan alat dari Anthropic beberapa jam sebelum serangan terhadap Iran dimulai.
Departemen pemerintah diberi waktu sekitar enam bulan untuk menghentikan penggunaan teknologi tersebut secara bertahap.
Meski demikian, dua sumber menyebut militer masih akan memanfaatkan sistem itu untuk sementara waktu hingga tersedia teknologi pengganti yang siap digunakan.
Baca Juga : Proyek Tangki Minyak RI Dimulai, Waspadai Krisis Energi?
