AS Kerahkan Pasukan ke Iran, Trump Kirim Pesan ke Khamenei
Presiden Donald Trump kembali melayangkan peringatan kepada para pemimpin Iran di tengah pengerahan pasukan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut, meskipun pembicaraan diplomatik antara Washington dan Tehran dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini.
“Saya kira dia harus sangat khawatir, ya. Dia seharusnya khawatir,” ujar Trump dalam wawancara dengan NBC News pada Rabu, saat ditanya mengenai Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Serta menegaskan, bahwasannya sedang dilakukan negosiasi di antara kedua negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahan di media sosial pada Rabu menyampaikan, bahwa pembicaraan dengan AS dijadwalkan berlangsung di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2/2026) pagi waktu setempat.
Baca Juga : Akui Belum Tepati Janji, Purbaya Nilai Pertumbuhan Ekonomi 5,39% Masih Oke
Menurut pejabat Gedung Putih, Amerika Serikat dan Iran tetap berencana bertemu di Oman pada Jumat pekan ini untuk membahas kesepakatan nuklir.
Seorang sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan bahwa Iran meminta agar diskusi dipindahkan dari Turki ke Oman. Permintaan itu muncul setelah Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika tidak menyetujui kesepakatan. Selain itu, Iran juga menginginkan agar negara-negara regional tidak dilibatkan dalam pertemuan tersebut.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington sempat menganggap kesepakatan sudah tercapai untuk menggelar pertemuan pada Jumat di Turki. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah AS tetap terbuka untuk berdiskusi.
Di sisi lain, Iran menyatakan ingin membatasi pembahasan hanya pada program nuklirnya. Meski demikian, Rubio menilai bahwa supaya pembicaraan benar-benar menghasilkan sesuatu yang berarti, harus mencakup hal-hal tertentu.
Menurutnya, topik yang perlu dibahas juga meliputi program rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok-kelompok regional, serta perlakuan pemerintah Iran terhadap rakyatnya. Rubio menambahkan bahwa Utusan Timur Tengah Gedung Putih, Steve Witkoff, siap dan bersedia menghadiri pertemuan tingkat tinggi tersebut.
Perbedaan pandangan mengenai ruang lingkup pembicaraan ini berpotensi menimbulkan kekhawatiran baru, terutama terkait apakah kedua pihak benar-benar mampu menjembatani perbedaan besar di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan kaya minyak tersebut.
Amerika Serikat dan Iran telah lama berselisih mengenai aktivitas nuklir Republik Islam. Namun, ketegangan semakin meningkat, terutama setelah otoritas Iran menindak keras gelombang protes baru-baru ini yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.
Pada Selasa, militer dan pemerintah AS melaporkan bahwa jet tempur Amerika menembak jatuh drone Iran, setelah dianggap mendekati secara agresif kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden tersebut turut memicu kenaikan harga minyak dunia.
Iran sebelumnya menolak bernegosiasi dengan AS terkait kemampuan rudal konvensionalnya. Namun, posisi Iran saat ini dinilai lebih lemah dibandingkan perundingan sebelumnya, akibat tingkat ketidakpuasan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam negeri.
Baca Juga : Iuran Board of Peace Mulai Tahun Ini, Menlu Sugiono: Bisa Diangsur
Pembicaraan antara Tehran dan Washington tahun lalu gagal setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Juni.
Araghchi pekan lalu kembali menegaskan bahwa rudal Iran tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga secara eksplisit menugaskannya untuk bernegosiasi dalam pembahasan kesepakatan nuklir.
Hal tersebut merujuk secara khusus pada aktivitas nuklir Iran, mengingat Tehran telah memblokir akses pengawas internasional ke sejumlah fasilitas nuklir, setelah Israel dan AS melancarkan serangan udara pada Juni lalu.
Perundingan yang akan datang ini diperkirakan menjadi pertemuan publik pertama antara pejabat Iran dan AS, sejak Tehran melakukan tindakan keras terhadap protes massal di Iran pada bulan lalu.
