Bahlil Dorong Impor Energi Tanpa Dolar AS untuk Tekan Devisa
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan pada impor energi, terutama LPG yang selama ini menyedot devisa dalam jumlah besar. Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong peningkatan produksi dalam negeri sekaligus membuka opsi transaksi impor tanpa menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: 3 Jurus Dongkrak Produksi Minyak RI Diungkap Bahlil
Bahlil menilai, tingginya kebutuhan devisa untuk impor energi turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Karena itu, ia menilai perlu adanya terobosan dalam mekanisme pembayaran impor energi agar lebih fleksibel dan tidak bergantung pada dolar AS.
“Makanya ke depan adalah saya ingin impor-impor ini ya kalau bisa kita kurangi. Kita manfaatkan produksi dalam negeri kita dan atau kalau kita mau impor bila perlu jangan usah pakai dolar lah. Negara mana yang bisa beli kita beli tidak pakai dollar itu jauh lebih baik,” kata Bahlil dalam Energy Forum CNBC Indonesia di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan, konsumsi LPG nasional saat ini telah mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,8–1,9 juta ton. Artinya, sekitar 75–80 persen kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor.
Menurutnya, impor LPG menjadi salah satu penyumbang terbesar keluarnya devisa negara. Saat harga acuan masih mengikuti Saudi Aramco dengan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sekitar 70 dolar AS per barel, devisa yang dikeluarkan untuk impor LPG mencapai sekitar Rp120 triliun per tahun.
Baca Juga: Negosiasi Utang Whoosh Diungkap China Berjalan Baik
Namun, seiring perubahan kondisi harga akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang berdampak pada fasilitas Saudi Aramco, nilai impor diperkirakan meningkat.
“Sekarang ICP nya seperti ini, bayangan saya devisa kita keluar untuk ngurus LPG tidak kurang dari RP140 sampai Rp150 triliun. Dan total pembelanjaan kita BBM per tahun kurang lebih sekitar US$ 28 sampai US$ 30 miliar,” ujar Bahlil.

[…] Bahlil Dorong Impor Energi Tanpa Dolar AS untuk Tekan Devisa […]
[…] Bahlil Dorong Impor Energi Tanpa Dolar AS untuk Tekan Devisa […]