BI Akui Intervensi Besar demi Jaga Rupiah Setelah Dolar Sentuh Rp 17.400
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan pihaknya melakukan intervensi besar-besaran untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Langkah tersebut dilakukan setelah rupiah sempat tertekan hingga menembus level psikologis Rp 17.400 per dolar AS pada awal pekan ini.
Baca Juga: Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta Disiapkan Pemerintah, Mobil Listrik Menyusul
Perry mengatakan intervensi dilakukan dengan mengandalkan cadangan devisa Indonesia.
Ia mencontohkan besarnya intervensi terlihat dari posisi cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 yang turun menjadi 148,2 miliar dollar AS dari sebelumnya 151,9 miliar dollar AS pada Februari 2026.
“Itu bukan business as usual, itu all out. Intervensi dalam jumlah besar dengan cadev yang ditunjukkan turun menjadi US$ 148,2 miliar,” kata Perry dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Kamis (7/5/2026).
Meski cadangan devisa menurun, Perry memastikan posisi tersebut masih sangat aman untuk menopang kebutuhan eksternal Indonesia.
Menurut dia, besaran cadangan devisa Indonesia saat ini masih jauh di atas standar kecukupan internasional.
Data per Maret 2026 menunjukkan cadangan devisa Indonesia setara dengan pembiayaan 6 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Itu lebih dari cukup, kami ukur kebutuhan-kebutuhan untuk intervensi dan tolong diingat cadev dikumpulkan saat panen inflow besar,” paparnya.
Sebagaimana diketahui, rupiah sempat melemah tajam hingga menyentuh level Rp 17.403 per dolar AS pada perdagangan awal pekan.
Berdasarkan data Refinitiv, posisi tersebut menjadi level terlemah intraday rupiah sepanjang sejarah.
Baca Juga: Diyakini Purbaya, Ekonomi RI Bisa Tumbuh 6 Persen Tahun Ini
Namun, rupiah berhasil kembali menguat pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026).
Data Refinitiv menunjukkan rupiah ditutup menguat 0,29 persen ke level Rp 17.330 per dolar AS.
