China-Indonesia Gelar Latihan Militer di Timur Taiwan, Ini Pesan Beijing
China dan Indonesia akan menggelar latihan navigasi angkatan laut bersama di perairan sebelah timur Taiwan pada pertengahan Agustus 2026.
Kementerian Pertahanan Nasional China menyebut latihan tersebut menjadi kegiatan pertama Angkatan Laut China dengan angkatan laut negara asing di kawasan perairan timur Taiwan.
Dalam latihan itu, kapal Angkatan Laut China, Honghe, akan berlatih bersama sebuah kapal perang Indonesia. Materi latihan mencakup komunikasi hingga pengisian logistik di laut.
“Latihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan operasi gabungan kedua angkatan laut, memperdalam kerja sama praktis bilateral, dan bersama-sama menjaga perdamaian serta stabilitas regional,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan China, dikutip dari Global Times, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Trump Sebut Pesawat Rahasianya Lebih Berkemungkinan Diserang
Latihan di Timur Taiwan Dinilai Punya Pesan Strategis
China dan Indonesia sebelumnya telah beberapa kali menggelar latihan militer bersama. Pada akhir November hingga awal Desember 2025, kedua negara mengadakan latihan gabungan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana yang melibatkan unsur angkatan darat, laut, dan udara.
Namun, latihan yang akan berlangsung di sebelah timur Taiwan kali ini dinilai memiliki arti khusus bagi Beijing.
Pakar urusan militer China, Zhang Junshe, mengatakan kegiatan tersebut menjadi latihan angkatan laut pertama China dengan negara asing di perairan timur Taiwan.
Menurut dia, latihan itu “sangat signifikan” karena mengirimkan pesan politik dan strategis kepada dunia internasional.
“China memiliki hak kedaulatan dan yurisdiksi atas zona ekonomi eksklusif di sebelah timur Pulau Taiwan,” kata Zhang kepada Global Times.
Zhang menilai kehadiran kapal perang asing dalam latihan di wilayah yang diklaim China berada di bawah yurisdiksinya merupakan hal yang wajar.
“Mengundang kapal perang asing untuk melakukan pelatihan di perairan yang berada di bawah yurisdiksi China sendiri adalah hal yang normal dan masuk akal. Tindakan ini juga menunjukkan bahwa China memiliki hak kedaulatan dan yurisdiksi atas perairan tersebut,” ujarnya.
Ia juga mengatakan hak maritim China mencakup perairan teritorial di sebelah timur Taiwan, termasuk zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen.
“Ruang lingkup kedaulatan dan hak maritim China yang relevan mencakup perairan teritorial di sebelah timur Pulau Taiwan, serta zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen,” katanya.
Latihan tersebut berlangsung setelah Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) melalui Komando Teater Timur menggelar latihan gabungan bertajuk Justice Mission 2025 di sejumlah perairan di sekitar Taiwan.
Beijing menyatakan latihan tersebut merupakan bagian dari upaya PLA menjaga kedaulatan dan integritas wilayah China.
Sejak Juni 2026, kapal Penjaga Pantai China juga disebut rutin melakukan patroli di perairan timur Taiwan. Beijing menyebut aktivitas tersebut sebagai upaya menjalankan yurisdiksi berdasarkan hukum serta menjaga kedaulatan dan hak maritimnya.
China mengaitkan langkah itu dengan keputusan Jepang dan Filipina untuk memulai negosiasi batas maritim di perairan sebelah timur Taiwan. Beijing menilai langkah Tokyo dan Manila tersebut telah “secara serius melanggar kedaulatan wilayah dan hak maritim China.”
Zhang mengatakan latihan bersama Indonesia dapat memperkuat instrumen China dalam mempertahankan kepentingan maritimnya.
“Latihan ini sepenuhnya menunjukkan bahwa China memiliki kemampuan dan tekad yang kuat untuk mempertahankan hak maritimnya melalui tindakan praktis maritim yang rutin, serta menunjukkan hak kedaulatan dan yurisdiksinya di perairan terkait di sebelah timur Pulau Taiwan,” katanya.
Baca Juga: Pendapatan danantara Naik 400 Persen, Presiden Prabowo Minta Audit
Hubungan Militer China-Indonesia Makin Erat
Latihan navigasi tersebut menjadi kerja sama maritim kedua antara China dan Indonesia pada Agustus 2026. Hal ini dinilai menunjukkan semakin eratnya hubungan militer kedua negara.
Sebelumnya, gugus tugas Angkatan Laut PLA yang terdiri dari kapal latih Qijiguang (Hull 83) dan kapal pendarat amfibi Kunlunshan (Hull 998) tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada 2 Agustus 2026.
Kedua kapal tersebut melakukan kunjungan persahabatan selama empat hari dalam rangkaian misi pelatihan laut lepas dan kunjungan internasional.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin sebelumnya juga menyoroti perkembangan kerja sama angkatan laut kedua negara.
“Dalam beberapa tahun terakhir, angkatan laut China dan Indonesia terus memperluas kerja sama, termasuk latihan bersama dan kunjungan kapal secara timbal balik, sehingga memajukan hubungan militer kedua negara baik dari segi cakupan maupun kedalaman,” kata Jiang Bin dalam konferensi pers rutin Kementerian Pertahanan China pada 30 Juli.
Di sisi lain, Taiwan mengecam rencana latihan tersebut. Taipei menilai kegiatan itu berbahaya karena dianggap bertujuan menciptakan kesan bahwa China memiliki kendali atas wilayah perairan di sekitar timur Taiwan.
Dewan Urusan Daratan Taiwan (Mainland Affairs Council/MAC) pada Selasa malam menyebut latihan tersebut sebagai bentuk “provokasi militer”.
MAC mendesak Beijing menghentikan aktivitas tersebut.
“China harus segera menghentikan perilaku berbahaya yang merusak status quo ini,” kata MAC.
Menurut MAC, latihan bersama dengan negara lain di kawasan tersebut merupakan bagian dari rangkaian aktivitas China, termasuk patroli yang disebut Beijing sebagai “patroli penegakan hukum rutin” di sebelah timur Taiwan.
MAC menilai China berusaha menggunakan latihan militer bersama dengan “negara-negara terkait” untuk kepentingan politik.
“Ini pada kenyataannya adalah manipulasi politik, ‘latihan atas nama, ekspansi dalam praktik’, yang bertujuan menciptakan kesan palsu di hadapan komunitas internasional bahwa komunis China memiliki yurisdiksi atas perairan di sebelah timur Taiwan,” demikian pernyataan MAC.

[…] China-Indonesia Gelar Latihan Militer di Timur Taiwan, Ini Pesan Beijing […]