Donald Trump Belum Puas, NATO Siapkan Strategi Khusus
Para pemimpin negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dikabarkan menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga hubungan dengan Presiden Amerika Serikat (AS,) Donald Trump, menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang akan digelar di Ankara, Turkiye, pekan depan.
Persiapan tersebut dilakukan setelah hubungan Trump dengan NATO sempat memanas akibat perbedaan sikap terkait konflik Iran. Trump sebelumnya berulang kali mengkritik aliansi tersebut karena tidak memberikan dukungan militer dalam konflik di Timur Tengah. Bahkan, ia pernah menyebut NATO sebagai “macan kertas”.
Selain melontarkan kritik, pemerintahan Trump juga mengurangi jumlah pasukan AS di Jerman serta membatalkan rencana penempatan rudal Tomahawk di negara tersebut.
Negara NATO Tunjukkan Kenaikan Belanja Pertahanan
Mengutip laporan AFP, Senin (30/6/2026), negara-negara anggota NATO akan memanfaatkan KTT untuk menunjukkan bahwa mereka mulai memenuhi tuntutan Trump agar belanja pertahanan ditingkatkan hingga setara 5% dari produk domestik bruto (PDB).
Baca Juga : Peluang Kerja di Luar Negeri Makin Besar, Masih Banyak Lowongan untuk WNI
Meski target tersebut baru dijadwalkan tercapai pada 2035, Trump disebut ingin melihat bukti nyata bahwa negara-negara Eropa telah mengambil langkah konkret.
Seorang diplomat NATO yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan upaya tersebut bertujuan memperlihatkan kepada Trump bahwa tekanannya selama ini membuahkan hasil dan mendapat respons positif dari para sekutu.
Hal serupa sebelumnya juga disampaikan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, saat bertemu Trump di Gedung Putih. Dalam kesempatan itu, Rutte memperlihatkan grafik bertajuk “THE TRUMP TRILLION” yang menunjukkan peningkatan anggaran pertahanan negara-negara Eropa sejak Trump pertama kali menjabat pada 2017.
Meski demikian, sejumlah negara masih berpotensi menjadi sorotan. Republik Ceko dan Slovenia, bersama satu negara anggota lainnya, diperkirakan belum mampu memenuhi target minimal belanja pertahanan sebesar 2% dari PDB pada tahun ini.
Dukungan untuk Kebijakan Trump terhadap Iran
Situasi di Timur Tengah juga diperkirakan menjadi salah satu pembahasan penting dalam KTT.
Meskipun Trump telah mencapai kesepakatan awal dengan Iran, kondisi kawasan dinilai masih belum stabil. Trump juga dikabarkan masih kecewa terhadap beberapa negara Eropa yang membatasi penggunaan pangkalan militer mereka oleh pasukan AS selama konflik berlangsung.
Sebagai bentuk dukungan, Perancis dan Inggris disebut telah menyiapkan rencana operasi di Selat Hormuz. Selain itu, beberapa negara Eropa juga mulai memindahkan aset militer, termasuk kapal penyapu ranjau, agar lebih dekat dengan kawasan apabila diperlukan.
Walau NATO diperkirakan tidak akan terlibat langsung dalam operasi tersebut, langkah negara-negara Eropa dinilai dapat meredakan kritik dari Washington.
Kontrak Militer Bernilai Miliaran Dolar
Selain menyoroti peningkatan anggaran pertahanan, NATO juga ingin menunjukkan bahwa tambahan belanja tersebut menghasilkan penguatan kemampuan militer.
Menurut diplomat dan pejabat NATO, sejumlah negara diminta menunda pengumuman kontrak pertahanan bernilai miliaran dolar agar dapat diumumkan bertepatan dengan penyelenggaraan KTT di Ankara.
Kesepakatan tersebut melibatkan perusahaan pertahanan dari Amerika Serikat maupun Eropa. Bahkan, Mark Rutte dikabarkan berharap Trump hadir langsung untuk menyaksikan pengumuman berbagai kontrak tersebut.
Eropa Ingin Ambil Peran Lebih Besar
Pemerintahan Trump selama ini terus mendorong negara-negara Eropa agar memikul tanggung jawab yang lebih besar terhadap keamanan kawasan, sementara Amerika Serikat mulai mengurangi sebagian komitmen militernya di Eropa.
Kebijakan tersebut mencakup pengurangan aset yang disediakan bagi komandan NATO serta evaluasi penempatan pasukan AS di kawasan selama enam bulan.
Para pemimpin Eropa mengakui bahwa dukungan militer Washington masih dibutuhkan. Namun, mereka ingin menunjukkan bahwa NATO kini bergerak menuju struktur pertahanan yang lebih mandiri dengan peran Eropa yang semakin besar.
Erdogan Dinilai Jadi Faktor Penarik Trump
Di tengah hubungan yang kurang harmonis dengan sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Trump dinilai masih memiliki hubungan baik dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan.
Baca Juga : Trump Ancam Sanksi, Minta SPBU AS Turunkan Harga BBM
Bahkan pekan lalu, Trump mengaku kemungkinan besar tidak akan menghadiri KTT NATO apabila pertemuan tersebut tidak diselenggarakan di Turkiye di bawah kepemimpinan Erdogan.
Lokasi penyelenggaraan di kompleks Istana Kepresidenan Turkiye yang megah juga disebut menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian Trump.
Untuk meminimalkan potensi kontroversi, agenda KTT kali ini dibuat lebih singkat. Trump dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam pada 7 Juli, kemudian mengikuti satu sesi resmi bersama para pemimpin NATO pada hari berikutnya.
Mantan Duta Besar Slovakia untuk NATO, Peter Bator, menilai indikator keberhasilan KTT kali ini cukup sederhana, yakni apabila Trump tidak menyerang, mengkritik, ataupun melemahkan NATO selama forum berlangsung.
