Ekspor Listrik ke Singapura Berpotensi Hasilkan Devisa Rp19 T per Tahun
Rencana ekspor listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) dari Indonesia ke Singapura dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi Indonesia.
Selain memperkuat sektor energi, proyek ini juga berpotensi menambah devisa negara hingga Rp19 triliun per tahun.
Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, mengatakan kapasitas ekspor listrik yang direncanakan mencapai 3,4 gigawatt (GW).
Dengan kapasitas tersebut, produksi listrik hijau diperkirakan mencapai sekitar 8,9 terawatt hour (TWh) per tahun.
Menurut dia, nilai ekonomi dari ekspor listrik tersebut cukup menjanjikan bagi penerimaan negara.
“Estimasi saya, dengan kapasitas ekspor 3,4 GW, produksi sekitar 8,9 TWh per tahun, dan harga US$80—US$120/MWh, potensi ekspor mencapai US$700 juta—US$1,1 miliar atau sekitar Rp12—Rp19 triliun per tahun [kurs Rp17.000/US$]. Nilainya dapat meningkat jika memperoleh green premium,” papar Badiul saat dihubungi, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Solar Nelayan Rp15.000 Dipastikan Bahlil Tak Bebani APBN
Tingginya Permintaan Singapura Jadi Pendorong Utama
Badiul menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong kerja sama ini adalah meningkatnya kebutuhan listrik rendah karbon di Singapura.
Di sisi lain, negara tersebut memiliki keterbatasan lahan untuk membangun pembangkit energi terbarukan dalam skala besar.
Kondisi itu membuat Indonesia dinilai memiliki posisi strategis karena memiliki potensi energi surya dan angin yang besar serta lokasi geografis yang berdekatan.
“Pendorong utamanya ialah tingginya permintaan listrik rendah karbon di Singapura, keterbatasan lahan untuk membangun pembangkit EBT, serta keunggulan Indonesia dalam potensi energi surya, angin, dan kedekatan geografis yang menekan biaya interkoneksi,” jelas Badiul.
Meski prospeknya menjanjikan, proses negosiasi harga jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA) antara Indonesia dan Singapura masih berlangsung.
Dia menilai belum tercapainya kesepakatan harga dipengaruhi oleh besarnya investasi yang harus disiapkan sejak awal proyek.
“Saya juga melihat perbedaan harga sangat mungkin dipengaruhi besarnya investasi awal yang diperkirakan mencapai Rp153—Rp238 triliun,” lanjut dia.
Karena itu, FITRA mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru menyepakati tarif yang terlalu rendah hanya demi mempercepat realisasi proyek.
“Selain itu, pemerintah harus memperhitungkan biaya penyediaan lahan, risiko investasi, nilai karbon, kewajiban pemenuhan kebutuhan listrik domestik, hingga manfaat ekonomi yang diterima Indonesia. Harga tidak boleh hanya menguntungkan pembeli, tetapi juga mencerminkan nilai strategis sumber daya nasional,” urai Badiul.
Baca Juga: 143.449 Wajib Pajak Dormant 2026 Diaktifkan DJP
Pemerintah Masih Menunggu Kesepakatan Harga
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah belum akan menerbitkan aturan turunan terkait ekspor listrik ke Singapura sebelum tercapai kesepakatan tarif.
Menurut Bahlil, pembahasan harga masih berlangsung karena kedua pihak masih mencari formula yang saling menguntungkan.
“Kalau sudah ada harganya, baru saya buat aturannya ya,” ungkap Bahlil saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).
Ia mengakui hingga kini belum ada titik temu terkait harga jual listrik.
“Harganya belum, harganya belum deal. Belum win-win. Justru saya kan bilang harganya belum ada titik temu, makanya belum ada kesepakatan di harga,” jelas dia.
Bahlil mengatakan pemerintah akan mengatur aspek regulasi, tarif, dan perizinan. Sementara pelaksanaan proyek nantinya dilakukan melalui skema business to business (B2B).
“Pada implementasinya, itu kan B2B. Bisa BUMN Danantara dengan BUMN-nya Singapura, ataupun opsi lain swasta dengan swasta. [Hal] yang penting memenuhi syarat dalam aturan dan saling menguntungkan. Itu paling penting ya,” imbuhnya.
Dalam pertemuan tahunan pemimpin Indonesia-Singapura atau Leaders’ Retreat pada 6 Juli 2026, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengungkapkan tiga perusahaan yang akan mengimpor listrik dari Indonesia, yakni Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections.
“Hari ini, kita juga telah menandatangani MoU antara Danantara dan Keppel Electric, Sembcorp Industries, serta Singapore Energy Interconnections,” kata Wong.
Ia menilai kerja sama tersebut dapat menjadi fondasi penting bagi integrasi jaringan listrik regional di Asia Tenggara.
“Kami percaya bahwa proyek semacam ini saling menguntungkan bagi kedua negara. Proyek ini juga akan menjadi blok bangunan penting bagi jaringan listrik Asean [Asean Power Grid] yang lebih luas, yang akan memperkuat keamanan energi di seluruh kawasan kita,” pungkas dia.

[…] Ekspor Listrik ke Singapura Berpotensi Hasilkan Devisa Rp19 T per Tahun […]
[…] Ekspor Listrik ke Singapura Berpotensi Hasilkan Devisa Rp19 T per Tahun […]
[…] Ekspor Listrik ke Singapura Berpotensi Hasilkan Devisa Rp19 T per Tahun […]