Ekspor Minyak Teluk Melonjak, Selat Hormuz Masih Mencekam
Ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia kembali melampaui tingkat sebelum perang, meskipun ancaman serangan terhadap kapal di Selat Hormuz masih berlangsung. Penggunaan pola pelayaran baru dengan dukungan perlindungan militer Amerika Serikat (AS) membantu kapal tanker tetap mengangkut minyak melewati jalur perdagangan energi yang strategis tersebut.
Mengutip The Wall Street Journal, Selasa (20/10/2026), data perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan bahwa pengiriman minyak dari Timur Tengah, termasuk melalui Selat Hormuz dan jalur alternatif di kawasan itu, rata-rata mencapai lebih dari 24 juta barel per hari dalam sepekan hingga 18 Oktober. Jumlah tersebut melampaui rata-rata sebelum perang yang tercatat sebesar 23,3 juta barel per hari.
Khusus untuk pengiriman yang melintasi Selat Hormuz, termasuk pemindahan minyak antarkapal di perairan lepas pantai Teluk Oman, volumenya mencapai sekitar 14 juta barel per hari. Angka ini setara dengan 82 persen dari tingkat sebelum perang.
Kapal Tanker Pakai Sistem Baru
Pulihnya volume ekspor minyak menunjukkan bahwa upaya Teheran untuk menghalangi lalu lintas kapal di Selat Hormuz belum mampu menghentikan sebagian besar pengiriman dari kawasan tersebut.
Baca Juga : Saudi Cegat Rudal Houthi ke Riyadh, Warga Alami Kepanikan
Ekonom komoditas senior Capital Economics, Hamad Hussain, menilai pola pelayaran berisiko kini mulai menjadi praktik yang diterima oleh para pelaku industri minyak.
“Gambaran besarnya adalah bahwa sistem pelayaran melalui Selat Hormuz yang berbahaya kini telah mapan, dan toleransi risiko pihak-pihak yang terlibat dalam ekspor minyak pun telah meningkat,” kata Hussain.
Pola tersebut dilakukan dengan membatasi waktu kapal berada di wilayah berbahaya. Kapal tanker terlebih dahulu mengisi muatan minyak di kawasan Teluk Persia, lalu melintasi Selat Hormuz dengan dukungan perlindungan udara Amerika Serikat di sepanjang koridor dekat pesisir Oman.
Selama perjalanan, sejumlah kapal juga dilaporkan menonaktifkan sinyal pelacakan. Setelah melewati selat, kapal berlabuh di sekitar Oman untuk memindahkan minyak ke kapal lain yang bertugas mengangkutnya menuju pasar internasional yang lebih jauh.
Kapal tanker yang telah menurunkan muatannya kemudian kembali ke Teluk Persia untuk mengambil pasokan berikutnya. Skema ini memungkinkan pengiriman terus berjalan, meski kapal harus kembali memasuki kawasan yang memiliki risiko serangan tinggi.
Jalur Alternatif Ikut Digunakan
Selain mengandalkan Selat Hormuz, eksportir minyak meningkatkan pemanfaatan jalur pipa yang menghubungkan wilayah produksi dengan fasilitas ekspor di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Kpler memperkirakan sekitar 40 persen minyak mentah non-Iran yang dikirim dari kawasan Teluk pada September menggunakan jalur di luar Selat Hormuz. Sebelum perang, proporsi pengiriman melalui jalur alternatif tersebut hanya sekitar 17 persen.
Kondisi ekspor Iran justru berbeda. Pengiriman minyak dari negara tersebut mengalami hambatan akibat blokade maritim yang diberlakukan Amerika Serikat.
Di tengah perubahan rute perdagangan, ancaman terhadap kapal komersial masih tinggi. Berdasarkan penghitungan The Wall Street Journal yang merujuk laporan UK Maritime Trade Operations Centre dan perusahaan keamanan maritim, sekitar 30 serangan terhadap kapal dilaporkan terjadi sepanjang Oktober.
Baca Juga : Eropa Dilanda Demo, Ini Alasan Kerusuhan di Prancis dan Italia
Michelle Wiese Bockmann, analis senior perusahaan intelijen maritim Windward, menyebut jumlah serangan pada Oktober mencakup sekitar 20 persen dari seluruh kapal yang diserang selama perang.
Mantan perwira Angkatan Laut Inggris yang kini bekerja di Neptune P2P Group, Christopher Long, menilai serangan tersebut menunjukkan upaya Iran untuk kembali memperketat kendali atas jalur pelayaran strategis itu.
“Iran sedang berupaya menegaskan kembali blokadenya terhadap selat tersebut,” kata Long.
Keuntungan Besar Jadi Faktor Keberhasilan
Besarnya potensi keuntungan menjadi salah satu alasan pedagang dan pemilik kapal tetap bersedia mengirimkan minyak melalui Selat Hormuz, meskipun risiko keamanan meningkat.
Kepala analisis minyak mentah Kpler, Homayoun Falakshahi, memperkirakan penjualan kembali minyak Irak dapat memberikan keuntungan tambahan sekitar 20 dollar AS atau Rp 359.530 per barel dibandingkan sebelum perang.
Untuk satu kapal supertanker, tambahan keuntungan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 40 juta dollar AS atau Rp 719 miliar. Tiga kali perjalanan bahkan dinilai berpotensi menghasilkan keuntungan yang cukup untuk menutup harga pembelian kapal tanker bekas senilai sekitar 100 juta dollar AS atau Rp 1,7 triliun.
Insentif finansial juga diberikan kepada awak kapal yang bersedia menjalani pelayaran berisiko. Sejumlah pelaut ditawari bayaran tambahan sebesar dua hingga tiga kali gaji bulanan mereka.
Bahkan, sebuah perusahaan penyedia awak kapal asal China dilaporkan menawarkan kompensasi hingga 25.000 dollar AS atau sekitar Rp 449 juta untuk perjalanan pulang-pergi yang biasanya berlangsung selama satu hingga dua pekan.
“Volume tetap tinggi meski serangan meningkat karena keuntungan membuat risiko tersebut sepadan,” kata Falakshahi.
Lonjakan tarif pengangkutan minyak juga mendorong pemilik kapal mengoperasikan armada tua yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut minyak Venezuela dan Rusia. Kapal-kapal tersebut kini dialihkan ke kawasan Teluk Persia untuk memanfaatkan tingginya tarif tanker.
Meski demikian, tingginya keuntungan dan penggunaan pola pelayaran baru tidak serta-merta menjamin keselamatan kapal.
Salah satu contoh nyata adalah supertanker berbendera Tanzania bernama Loyalty. Sebelum beroperasi di Teluk Persia, kapal tersebut selama bertahun-tahun mengangkut minyak mentah Venezuela ke China.
Sejak September, Loyalty tercatat dua kali memasuki Teluk Persia untuk mengambil minyak mentah Irak. Seorang awak kapal mengatakan bahwa kapal tersebut melaporkan setiap perjalanan kepada Angkatan Laut AS dan membawa personel keamanan.
Pada awal Oktober, kapal itu memindahkan sekitar 2 juta barel minyak mentah Irak di Teluk Oman ke kapal tanker lain yang identitasnya tidak diketahui. Setelah pemindahan muatan, Loyalty kembali memasuki Teluk Persia untuk mengambil minyak berikutnya.
Sebelum perjalanan kedua, manajemen kapal juga mengirimkan rompi antipeluru dan helm kepada awak sebagai perlengkapan keselamatan.
Namun, langkah tersebut tidak mencegah terjadinya serangan. Pada 16 Oktober, Loyalty diserang menggunakan granat berpeluncur roket yang ditembakkan dari sebuah kapal kecil, menurut perusahaan keamanan maritim Vanguard.
Serangan itu menyebabkan lubang pada tangki air tawar kapal. Saat kejadian berlangsung, Loyalty dilaporkan membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Irak berdasarkan keterangan awak kapal.
Biaya Pengiriman dan Asuransi Melonjak
Meningkatnya risiko keamanan di Selat Hormuz turut menaikkan biaya pengangkutan minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.
Menurut Kpler, tarif angkutan supertanker yang membawa minyak mentah dari Teluk ke China mendekati rekor pada pekan tersebut, yakni sekitar 37,37 dollar AS atau Rp 671.782 per barel.
Baca Juga : Jenderal Pakistan Lakukan Kunjungan ke Teheran, Upaya Damai?
Biaya perlindungan kapal juga mengalami kenaikan tajam. Wiese Bockmann dari Windward menyebut premi asuransi risiko perang telah mencapai sekitar 10 persen dari nilai kapal, jauh di atas tingkat sebelumnya yang kurang dari 3 persen.
Natasha Kaneva, kepala tim strategi komoditas global JPMorgan, menilai tantangan pasar minyak telah berubah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
“Dulu pada April, masalahnya adalah kekurangan minyak mentah. Pada Oktober, masalahnya adalah biaya untuk memindahkannya,” kata Kaneva.
Di tengah tingginya biaya logistik dan risiko pelayaran, harga minyak dunia masih bertahan pada level tinggi. Harga minyak acuan Brent bahkan naik dalam beberapa hari terakhir hingga sekitar 108 dollar AS per barel pada Selasa.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pulihnya volume ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia belum berarti jalur perdagangan energi tersebut kembali normal. Pengiriman masih berlangsung dengan biaya lebih besar, risiko keamanan tinggi, dan ketergantungan pada pengaturan pelayaran khusus.
