Empat Bank Iran Diretas Usai AS Cairkan Dana Rp 106 Triliun
Empat bank besar di Iran menjadi sasaran serangan siber pada Selasa (23/6/2026), hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mengizinkan Teheran mengakses dana minyak senilai 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 106 triliun yang sebelumnya dibekukan.
Bank yang terdampak meliputi Export Development Bank of Iran, Bank Melli, Bank Saderat, dan Bank Tejarat.
Akibat serangan tersebut, keempat bank menghentikan sementara layanan yang berkaitan dengan kartu perbankan.
Hingga kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas peretasan tersebut.
Namun, sejumlah sumber intelijen dan pakar keamanan siber menduga serangan itu berkaitan dengan Israel.
Baca Juga: Prabowo Optimistis RI Bisa Jadi Lumbung Padi Dunia
Serangan Terjadi Setelah Dana Iran Dicairkan
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengizinkan Iran mulai mengakses dana minyak senilai 6 miliar dollar AS yang selama ini disimpan di Qatar.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump menegaskan dana tersebut hanya dapat digunakan untuk membeli makanan dan pasokan medis dari Amerika Serikat.
Namun, Iran menolak pembatasan tersebut.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ali Bahreini, menegaskan bahwa Teheran memiliki hak penuh untuk menentukan penggunaan aset tersebut.
“Iran adalah satu-satunya negara yang memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap aset itu,” kata Bahreini.
Pencairan dana tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya ketegangan di tengah proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran.
Kelompok Peretas Diduga Terkait Israel
Sejumlah pakar keamanan siber menduga kelompok peretas Predatory Sparrow berada di balik serangan terhadap empat bank Iran.
Kelompok tersebut selama ini dikenal luas sebagai kedok operasi siber yang dikaitkan dengan pemerintah Israel.
Mantan penasihat salah satu unit intelijen Kementerian Pertahanan Israel, Ronen Solomon, mengatakan waktu terjadinya serangan memiliki arti penting.
“Predatory Sparrow adalah kelompok yang terkait dengan Unit 8200 Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Kelompok itu dikenal sebagai nama samaran untuk aktivitas Israel,” kata Solomon kepada The Telegraph.
Menurut dia, pencairan dana Iran kemungkinan menjadi alasan utama di balik operasi tersebut.
Solomon menilai Israel dan sejumlah badan intelijen Barat berupaya memperlambat kemampuan Iran memanfaatkan dana yang baru dicairkan, termasuk untuk mendukung program nuklir dan pengembangan misil.
Ia juga mengklaim dana tersebut berpotensi digunakan untuk membantu Hizbullah, mulai dari pembayaran personel hingga pembelian persenjataan, pembangunan fasilitas, dan pelatihan.
Perselisihan Baru soal Inspeksi Nuklir
Di tengah insiden siber tersebut, AS dan Iran juga masih berbeda pandangan mengenai inspeksi fasilitas nuklir Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya menyatakan Teheran telah menyetujui inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terhadap lokasi nuklir yang pernah menjadi sasaran serangan Amerika dalam perang 12 hari pada 2025.
Namun, pemerintah Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak akan mengizinkan para inspektur memasuki negara itu setelah perundingan damai di Swiss berakhir.
Trump kemudian membalas pernyataan tersebut. Ia menegaskan Iran telah “sepenuhnya dan secara menyeluruh” menyetujui akses bagi para inspektur internasional.
Trump juga mengatakan proses negosiasi antara kedua negara berjalan dengan baik.
Baca Juga: Prabowo Target RI Swasembada 4 Tahun, Tak Impor BBM
Diduga Upaya Mengganggu Proses Perdamaian
Kesepakatan awal yang ditandatangani AS dan Iran pekan lalu memberikan waktu 60 hari bagi kedua negara untuk merampungkan perjanjian damai jangka panjang.
Sejumlah isu penting masih dibahas, mulai dari program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, hingga konflik Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Kesepakatan tersebut memicu kekhawatiran di Israel karena dinilai dapat memperkuat posisi Iran di kawasan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga disebut tidak dilibatkan dalam pembahasan isi perjanjian tersebut.
Seorang sumber keamanan yang berbicara kepada The Telegraph menilai waktu terjadinya serangan siber menunjukkan adanya upaya untuk mengganggu proses negosiasi damai.
“Waktunya sangat tepat dan memiliki ciri operasi Israel yang direncanakan dengan baik untuk menyabotase kesepakatan yang sedang berjalan, yang bagi Israel merupakan sebuah bencana,” ujarnya.
Jejak Predatory Sparrow
Predatory Sparrow pertama kali muncul pada 2021 dan pernah dikaitkan dengan sejumlah serangan terhadap infrastruktur penting Iran.
Target serangan kelompok tersebut antara lain jaringan kereta api, sistem distribusi bahan bakar, pabrik baja Khouzestan, hingga Bank Sepah.
Kelompok itu sempat menghilang setelah perang pada Juni 2025.
Namun, Solomon meyakini Predatory Sparrow kini kembali aktif dan melanjutkan operasinya terhadap berbagai target strategis di Iran.
