Sekutu Eropa Mulai Menjauh dari Donald Trump, Ada Apa?
Hubungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan sejumlah sekutu politiknya di Eropa dilaporkan mengalami keretakan yang semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
Padahal, pada awal 2025, kemenangan Trump dalam pemilu AS sempat menjadi sumber inspirasi bagi berbagai partai konservatif dan nasionalis di Eropa. Sejumlah tokoh sayap kanan bahkan menjadikan keberhasilan Trump sebagai simbol kebangkitan gerakan konservatif global.
Dalam pertemuan bertajuk “Make Europe Great Again” di Madrid, para pemimpin politik nasionalis Eropa menunjukkan dukungan terbuka terhadap pemerintahan Trump yang baru.
Namun, situasi tersebut kini berubah. Trump mulai dianggap sebagai beban politik oleh sebagian tokoh yang sebelumnya menjadi pendukung kuatnya.
Dari Simbol Kebangkitan Konservatif Menjadi Beban Politik
Beberapa tokoh nasionalis Eropa seperti Marine Le Pen dari Prancis, Matteo Salvini dari Italia, dan Viktor Orban dari Hongaria sebelumnya menempatkan diri sebagai mitra terdekat Gedung Putih di kawasan Eropa.
Baca Juga : Usai Kesepakatan AS-Iran, Lalu Lintas di Hormuz Meningkat Tajam
Saat itu, mereka menilai hubungan dekat dengan Trump dapat memperkuat posisi politik masing-masing di dalam negeri.
Marine Le Pen bahkan pernah menyatakan bahwa kelompok nasionalis Eropa merupakan pihak yang paling mampu menjalin komunikasi dengan pemerintahan Trump.
Namun dalam waktu singkat, dukungan tersebut mulai memudar seiring meningkatnya kontroversi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Hubungan Trump dan Giorgia Meloni Memanas
Perubahan paling mencolok terlihat dari hubungan Donald Trump dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.
Meloni selama ini dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa yang paling dekat dengan Trump. Ia bahkan menjadi satu-satunya kepala pemerintahan Eropa yang menghadiri pelantikan Trump pada 2025.
Selama masa pemerintahannya, Meloni berusaha menjaga hubungan baik dengan Washington meskipun beberapa kebijakan Trump kerap berbenturan dengan kepentingan Eropa.
Ketegangan muncul setelah Trump menyatakan kepada media Italia bahwa Meloni meminta kesempatan untuk berfoto dengannya saat KTT G7 di Prancis.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Meloni.
“Saya dan Italia tidak pernah memohon,” kata Meloni melalui pesan video.
Perselisihan itu dinilai mencerminkan perubahan sikap para pemimpin Eropa yang kini tidak lagi melihat kedekatan dengan Trump sebagai keuntungan politik.
Popularitas Trump Menurun di Eropa
Popularitas Donald Trump di berbagai negara Eropa juga dilaporkan mengalami penurunan yang signifikan.
Bahkan di kalangan pemilih konservatif dan nasionalis, citra Trump tidak lagi sekuat sebelumnya.
Di Inggris, dukungan Nigel Farage terhadap Trump justru menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian pemilih menolak Partai Reform UK.
Hasil survei menunjukkan sekitar 37 persen responden menyebut hubungan Farage dengan Trump sebagai alasan utama mereka tidak akan memberikan dukungan politik.
Situasi serupa terjadi di Prancis, di mana Marine Le Pen mulai menjaga jarak setelah opini publik terhadap Trump memburuk.
Sementara itu, di Hongaria, dukungan terbuka dari pemerintahan AS tidak mampu membantu Viktor Orban mempertahankan posisinya dalam pemilu.
Perang Iran Perlebar Perbedaan Kepentingan
Perang antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memperdalam jarak antara Trump dan para sekutunya di Eropa.
Konflik tersebut memicu gangguan pasokan energi dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi di kawasan.
Italia menjadi salah satu negara yang paling terdampak karena ketergantungannya terhadap impor energi.
Meski memiliki pandangan yang relatif sejalan dengan Trump dalam isu imigrasi dan konservatisme sosial, Giorgia Meloni sejak awal menolak pendekatan militer terhadap Iran.
Menurut Meloni, konflik tersebut berpotensi memperburuk stabilitas Timur Tengah dan menambah risiko bagi negara-negara Eropa.
Analis politik Universitas LUISS Guido Carli di Roma, Lorenzo Castellani, menilai perbedaan kepentingan nasional kini semakin terlihat.
Menurutnya, para politisi Eropa menghadapi kesulitan untuk terus mendukung kebijakan Amerika Serikat ketika kepentingan domestik mereka terdampak secara langsung.
Sekutu Lama Trump Mulai Mengkritik
Perubahan sikap juga terlihat dari sejumlah tokoh yang sebelumnya dikenal dekat dengan Trump.
Nigel Farage di Inggris mulai mengurangi intensitas dukungannya setelah kebijakan perang AS menuai kritik luas.
Di Jerman, partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) yang selama ini dianggap memiliki kedekatan ideologis dengan Trump juga mulai mengambil posisi berbeda.
Pejabat AfD, Tino Chrupalla, bahkan menyampaikan kritik terbuka terhadap Presiden AS.
“Donald Trump memulai sebagai presiden perdamaian. Pada akhirnya, Donald Trump akan berakhir sebagai presiden perang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dukungan politik terhadap Trump di Eropa tidak lagi sekuat beberapa tahun sebelumnya.
Ancaman Keluar dari NATO Kembali Muncul
Di tengah memburuknya hubungan dengan sekutu Eropa, Trump disebut kembali menunjukkan ketidakpuasannya terhadap negara-negara anggota NATO.
Baca Juga : Kesepakatan AS-Iran Diduga Perkuat Hizbullah di Lebanon
Ia menilai banyak sekutu tradisional Amerika Serikat tidak lagi memberikan dukungan yang cukup terhadap kebijakan Washington.
Trump bahkan kembali mengungkit kemungkinan menarik Amerika Serikat keluar dari NATO, sebuah isu yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian serius bagi negara-negara Eropa.
Jika ketegangan ini terus berlanjut, hubungan trans-Atlantik yang selama puluhan tahun menjadi fondasi keamanan Barat berpotensi menghadapi tantangan yang semakin besar di masa mendatang.
