Gaji PM Singapura Naik 64 Persen, Warga Soroti Transparansi
Gaji para menteri Singapura kembali menjadi sorotan setelah pemerintah mengumumkan kenaikan remunerasi pejabat politik untuk pertama kalinya dalam 15 tahun.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengumumkan penyesuaian tersebut dalam sidang Parlemen pada Selasa (8/9/2026).
Dalam skema baru, gaji acuan Wong sebagai perdana menteri akan naik 64 persen menjadi S$3,6 juta atau sekitar Rp50,2 miliar per tahun, termasuk komponen bonus.
Kenaikan tersebut tidak hanya berlaku bagi Wong, tetapi juga wakil perdana menteri dan anggota kabinet Singapura.
Baca Juga: Cicilan Rp1 Triliun, Utang Whoosh Direstrukturisasi 80 Tahun
Gaji Pejabat Singapura Jadi Sorotan
Besaran gaji pejabat politik telah lama menjadi isu sensitif di Singapura, terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan biaya hidup.
Berdasarkan data pemerintah, pendapatan kotor bulanan median pekerja penuh waktu yang tinggal di Singapura pada 2025 mencapai sekitar S$5.775.
Kebijakan kenaikan gaji itu pun mendapat tanggapan beragam dari masyarakat.
May Goh, 69 tahun, pensiunan yang sebelumnya bekerja di industri semikonduktor, menilai kenaikan gaji para menteri memang layak diberikan.
“Saya pikir tanggung jawab mereka sangat besar. Sejauh ini mereka melakukan pekerjaan dengan baik dibandingkan negara-negara lain,” ujarnya kepada AFP.
Pandangan serupa disampaikan seorang pekerja keamanan siber berusia 32 tahun yang bekerja di kawasan pusat bisnis.
Perempuan yang hanya bersedia disebut sebagai “Ms Ho” tersebut menilai kenaikan gaji para menteri masih wajar.
“Mereka pada dasarnya adalah CEO di dunia politik,” katanya kepada AFP.
Ada Warga yang Nilai Kenaikan Terlalu Tinggi
Meski mendapat dukungan, sejumlah warga Singapura menilai kenaikan tersebut terlalu besar.
Seorang konsultan teknologi informasi berusia 26 tahun yang hanya ingin disebut dengan nama belakangnya, Hussain, mempertanyakan besarnya kenaikan gaji tersebut.
“Kenaikannya sangat besar. Ketika Anda melihat kenaikan gaji sebesar itu, Anda jadi berpikir, seperti, ‘wow, itu cukup banyak’. Kami bahkan tidak menghabiskan uang sebanyak itu,” ujarnya.
Kritik juga disampaikan seorang pekerja berusia 23 tahun yang menggunakan nama panggilan “Ami”.
Ia mempertanyakan dasar pemerintah dalam menentukan besaran kenaikan gaji Wong.
“Apakah kita punya cara untuk melihat hasil nyata dari apa yang dia (Wong) lakukan sehingga bisa membenarkan kenaikan gaji tersebut?” tanyanya.
Ami mengakui Wong dinilai berhasil menangani krisis Covid-19 yang melanda Singapura.
“Namun, apakah kenaikan sebesar itu memang layak? Saya kira itulah pertanyaannya,” katanya.
Baca Juga: Dapur MBG Diawasi Purbaya, Anggaran Bisa Dipangkas
Kenaikan Belum Langsung Penuh
Besarnya remunerasi pejabat Singapura juga membuat sebagian warga terkejut, meskipun mereka mengetahui bahwa gaji menteri di negara tersebut lebih tinggi dibandingkan banyak pemimpin negara lain.
Seorang pensiunan berusia 69 tahun yang mendukung kenaikan tersebut berharap pemerintah memberikan informasi yang lebih transparan mengenai remunerasi pejabat, termasuk bonus.
“Saya berharap mereka bisa sedikit lebih jelas dan transparan mengenai angka-angka ini, termasuk bonus,” ujarnya kepada AFP.
Kenaikan gaji tersebut sebelumnya direkomendasikan oleh komite independen yang melakukan peninjauan terhadap sistem remunerasi pejabat politik Singapura.
Meski pemerintah menyetujui rekomendasi tersebut, Wong mengatakan para menteri tidak akan langsung menerima kenaikan penuh.
Mulai 15 Oktober, mereka akan mendapatkan penyesuaian satu kali hingga maksimal 9 persen, dengan besaran yang bergantung pada kondisi masing-masing, termasuk faktor kinerja.
