Gempa Dahsyat Venezuela Picu Ancaman 10.000 Korban Jiwa
Dua gempa bumi berkekuatan besar yang mengguncang wilayah barat ibu kota Venezuela, Caracas, pada Rabu (24/6/2026), memicu kerusakan luas dan dikhawatirkan menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar.
Menurut laporan Al Jazeera, para ahli memperkirakan jumlah korban tewas akibat bencana tersebut berpotensi mencapai lebih dari 10.000 orang. Bencana diawali oleh gempa bermagnitudo 7,1 yang kemudian disusul gempa berkekuatan 7,5 hanya dalam waktu kurang dari satu menit.
Rangkaian gempa tersebut tercatat sebagai yang terkuat yang melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad terakhir.
Baca Juga : Trump Biaya Besar untuk Perang Iran, Kenapa?
Hancurnya gedung perkantoran, apartemen, dan kawasan permukiman membuat para ahli memperkirakan angka korban akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melalui pemodelan prediktif menyatakan bahwa jumlah korban kemungkinan mencapai ribuan orang, dengan peluang signifikan melampaui angka 10.000 jiwa.
Di lapangan, kondisi pascagempa digambarkan sangat memilukan oleh para penyintas yang berhasil keluar dari reruntuhan bangunan.
“Ketika kami turun ke bawah, situasinya seperti film horor. Kami harus memanjat puing-puing. Pengawas gedung membawa bayi dan semua orang ikut turun. Namun, dari gedung itu, saya hanya melihat satu keluarga yang berhasil keluar,” ujar Maria Alejandra, salah seorang korban selamat.
Peringatan Tsunami Sempat Dikeluarkan
Gempa kuat tersebut juga memicu peringatan tsunami di sejumlah wilayah Karibia.
Pusat Peringatan Tsunami Pasifik Amerika Serikat sempat mengeluarkan peringatan untuk wilayah pesisir Puerto Rico, Kepulauan Virgin AS, dan Kepulauan Virgin Inggris. Ancaman gelombang tsunami juga diperkirakan dapat berdampak pada pesisir Venezuela, Bonaire, Curacao, dan Aruba.
Namun, setelah dilakukan pemantauan lanjutan, peringatan tsunami tersebut akhirnya dicabut.
Sebelumnya, otoritas tsunami AS memperingatkan kemungkinan terjadinya fluktuasi permukaan laut dan arus laut kuat yang berbahaya bagi kawasan pantai, pelabuhan, serta perairan pesisir di kawasan Karibia.
Sementara itu, pemerintah Kolombia menegaskan bahwa gempa tersebut tidak menimbulkan ancaman tsunami bagi garis pantai Karibia negara tersebut.
Pemerintah Tetapkan Status Darurat Nasional
Menanggapi bencana besar itu, Presiden Interim Rodriguez segera menetapkan status darurat nasional di seluruh wilayah terdampak.
Pemerintah juga mengimbau warga untuk menggunakan aplikasi resmi bernama VenApp guna melaporkan anggota keluarga yang hilang maupun kerusakan rumah dan bangunan.
Selama ini, VenApp digunakan sebagai saluran komunikasi antara masyarakat dan pemerintah dalam berbagai situasi darurat.
VenApp Kembali Jadi Sorotan
Meski dimanfaatkan untuk penanganan bencana, penggunaan VenApp kembali memicu perdebatan karena rekam jejaknya yang kontroversial.
Berdasarkan laporan surat kabar El Nacional, aplikasi tersebut pertama kali diluncurkan pemerintah Venezuela pada 2022 sebagai portal pengaduan dan layanan masyarakat.
Namun, Amnesty International menyebut pada 2024 aplikasi itu sempat digunakan oleh pemerintahan Presiden Nicolas Maduro untuk mengumpulkan laporan terkait demonstran anti-pemerintah.
Baca Juga : Hormuz Aman, Kapal Pertamina Berhasil Lewat
Karena alasan tersebut, sejumlah kelompok hak asasi manusia menyoroti penggunaan aplikasi tersebut dalam situasi darurat saat ini.
Menurut laporan yang beredar, VenApp kini telah dihapus dari toko aplikasi resmi Google Play Store maupun Apple App Store, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai aksesibilitasnya bagi masyarakat luas di tengah krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Di saat upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, pemerintah Venezuela menghadapi tantangan besar untuk menangani korban, memulihkan infrastruktur, serta memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak gempa.
