Houthi Buka Peluang Mediasi untuk Akhiri Perang dengan Arab Saudi
Kelompok Houthi di Yaman menyatakan terbuka terhadap upaya mediasi internasional untuk mengakhiri perang dengan Arab Saudi, di tengah meningkatnya serangan antara kedua pihak.
Anggota biro politik Houthi, Mohamed al-Bukhaiti, mengatakan sejumlah negara telah berupaya mendorong penghentian serangan terhadap Arab Saudi sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Dikutip dari Associated Press (AP), Rabu (14/10/2026), Oman berupaya mempertemukan kembali kedua pihak di meja perundingan, sedangkan Rusia dan China melakukan upaya serupa melalui Iran.
“Kami menyambut baik mediasi apa pun yang dapat mengakhiri perang serta blokade antara Sanaa dan Riyadh,” kata al-Bukhaiti.
“Kami siap untuk mengakhiri perang dan blokade secara menyeluruh dari kedua belah pihak, bukan sekadar gencatan senjata sementara,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika konflik antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi kembali memanas setelah sekitar empat tahun berada dalam kondisi relatif tenang.
Baca Juga: Perang Iran Bebani Rumah Tangga AS sampai Rp 35 Juta
Houthi Serang Aramco, Arab Saudi Lakukan Serangan Balasan
Meski menyatakan kesediaan untuk berunding, Houthi masih melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah wilayah Arab Saudi.
Pada Selasa (13/10/2026) malam, kelompok yang didukung Iran itu menyerang kantor pusat perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran.
Dua pejabat regional mengatakan serangan tersebut merusak tiga lantai teratas gedung, termasuk kantor kepala eksekutif dan sejumlah pejabat tinggi perusahaan, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.
Kementerian Energi Arab Saudi sebelumnya melaporkan adanya kebakaran terbatas di gedung Aramco pada Selasa malam.
Selain Dhahran, serangan Houthi menyasar Riyadh dan Al-Kharj. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan telah mencegat dua drone, empat rudal jelajah, dan satu rudal balistik yang menargetkan Riyadh.
Satu rudal balistik menuju Dhahran dan satu rudal jelajah yang mengarah ke Al-Kharj juga berhasil dicegat. Namun, puing-puing serangan yang dicegat di Riyadh menyebabkan satu orang terluka pada Rabu.
Dalam sepekan terakhir, serangan Houthi di Arab Saudi dilaporkan menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium, lebih dari 3.000 penerbangan yang dijadwalkan berangkat dari bandara-bandara Arab Saudi dibatalkan atau dinyatakan tidak beroperasi.
Houthi menyebut serangan terhadap Arab Saudi sebagai balasan atas operasi militer koalisi Saudi di Sanaa dan wilayah Yaman lainnya.
Arab Saudi mendukung pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam operasi militer besar yang diluncurkan sekitar satu setengah minggu sebelumnya.
Koalisi pimpinan Arab Saudi juga menyerang sejumlah fasilitas minyak di wilayah yang dikuasai Houthi.
Baca Juga: Inflasi AS Naik ke 3,7 Persen pada September 2026
Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi melaporkan dua orang tewas akibat serangan udara pada Selasa di fasilitas minyak dekat Pelabuhan Ras Isa, Provinsi Hodeida. Serangan lainnya menyasar fasilitas minyak di Sanaa.
Analis senior Yaman di International Crisis Group, Ahmed Nagi, menilai penargetan fasilitas penyimpanan bahan bakar menandai fase baru dalam konflik tersebut.
“Kelompok Houthi mengandalkan tekanan, sementara pihak Saudi mengandalkan waktu,” ujar Nagi.
Pertempuran Menghambat Bantuan Kemanusiaan di Yaman
Di tengah upaya diplomatik, pertempuran di Yaman terus menimbulkan korban dan mengganggu kehidupan masyarakat sipil.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melaporkan lonjakan korban pertempuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di sejumlah garis depan, termasuk Marib, Taiz, dan pesisir Laut Merah.
Di Taiz, Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan tidak lagi dapat menjangkau lebih dari 600.000 warga yang bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Jalan-jalan utama menuju kota tersebut ditutup akibat pertempuran, sementara warga menghadapi kelangkaan bahan bakar dan makanan.
Pada Rabu, sekolah-sekolah di Taiz juga diperintahkan tutup selama satu bulan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa meskipun Houthi menyatakan kesediaan untuk menempuh mediasi, konflik di lapangan masih berlangsung dan berdampak langsung terhadap warga Yaman.

[…] Houthi Buka Peluang Mediasi untuk Akhiri Perang dengan Arab Saudi […]
[…] Houthi Buka Peluang Mediasi untuk Akhiri Perang dengan Arab Saudi […]