IHSG Jatuh ke Level 6.000, BEI Minta Investor Fokus Jangka Panjang
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan hingga turun ke level 6.000-an pada perdagangan Kamis (21/5/2026).
Menanggapi kondisi tersebut, Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik meminta pelaku pasar tetap melihat investasi saham sebagai instrumen jangka panjang.
“Kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini kan, juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Kamis (21/5/2026).
Jeffrey mengatakan pihaknya masih optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.
Baca Juga: Kerugian Ekspor Curang Diungkap Prabowo, Tembus Rp15.400 T
Ia menilai berbagai upaya pemerintah untuk mempermudah perizinan usaha akan memberi dampak positif terhadap pasar modal dalam jangka menengah dan panjang.
“Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam waktu jangka menengah panjang kita. Jadi kami sih positif,” tutur Jeffrey.
Adapun hingga pukul 13.35 WIB, IHSG tercatat merosot 3,64 persen ke posisi 6.088,22.
Posisi tersebut makin menjauh dari level psikologis 6.100 setelah tekanan jual terus berlangsung sejak awal perdagangan.
IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah harian di 6.083,69, jauh di bawah posisi penutupan sebelumnya di 6.318,50.
Sentimen BUMN ekspor tekan pasar
Dalam dua hari terakhir, pasar saham disebut tertekan oleh sentimen pembentukan badan ekspor komoditas milik negara.
Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan seluruh penjualan hasil sumber daya alam Indonesia, mulai dari minyak kelapa sawit hingga batu bara, akan dilakukan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Kebijakan tersebut disebut bertujuan memperkuat kontrol ekspor, memberantas praktik transfer pricing, serta mengoptimalkan devisa hasil ekspor di dalam negeri.
Namun, sejumlah pengamat menilai pasar merespons negatif rencana tersebut karena muncul kekhawatiran terhadap potensi intervensi pemerintah yang lebih besar terhadap sektor tambang.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai kebijakan ekspor satu pintu berpotensi menambah tekanan terhadap emiten batu bara.
“Jika implementasinya memperpanjang birokrasi atau menekan fleksibilitas penjualan ekspor, margin dan cash flow emiten berpotensi terpengaruh. Dari sisi saham, sentimen jangka pendek kemungkinan cenderung mixed hingga negatif karena investor akan menunggu detail teknis kebijakannya,” jelas Reydi.
Baca Juga: Dugaan Manipulasi Ekspor CPO Dibongkar Purbaya
Ekonom Dipo Satria Ramli juga menyoroti risiko penurunan valuasi perusahaan akibat kebijakan tersebut.
“Artinya akan ada sale off di pasar modal juga, yang terdampak oleh usaha ini. Ya kan harapannya sih pemerintah sudah memperhitungkan hal tersebut ya,” terang Dipo.
Sementara itu, pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan investor asing sangat sensitif terhadap ketidakpastian regulasi.
Menurut dia, kekhawatiran pasar bukan hanya soal pembentukan badan baru, melainkan potensi kontrol lebih besar terhadap harga dan mekanisme ekspor komoditas.
“Jadi menurut saya, pasar saat ini bukan takut pada badan ekspornya, tetapi takut pada potensi intervensi lanjutan yang dapat mengurangi profitabilitas dan kepastian usaha emiten tambang ke depan,” tutur Elandry.

[…] Baca Juga : IHSG Jatuh, BEI Minta Investor Fokus Jangka Panjang […]