IMF Minta RI Kurangi Ketergantungan pada “Duit Panas”
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap investasi portofolio asing.
Investasi tersebut kerap disebut sebagai “duit panas” atau hot money.
Menurut IMF, kondisi ini membuat perekonomian Indonesia lebih rentan terhadap tekanan eksternal.
Ketergantungan terhadap investasi portofolio membuat pergerakan modal asing dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan dalam waktu relatif cepat.
“Pendalaman pasar domestik yang masih terus berlangsung dan ketergantungan pada investasi portofolio asing membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap perubahan tajam dalam sentimen pasar dan premi risiko, serta fluktuasi kondisi keuangan global,” kata IMF dalam laporan External Sector Report 2026, dikutip Jumat (7/8/2026).
IMF mencatat arus investasi portofolio Indonesia berubah menjadi negatif pada 2025.
Kondisi tersebut mencerminkan terjadinya arus keluar bersih dari ekuitas dan obligasi swasta. Selain itu, terjadi pengurangan kepemilikan non-residen atas instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Iran dengan Syarat Ada Kompensasi Perang
Di sisi lain, arus masuk investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) neto juga mengalami penurunan.
Pada 2025, FDI neto tercatat sebesar 1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka itu turun dibandingkan 2024 sebesar 1,1 persen dan 2023 sebesar 1,4 persen.
Sementara itu, porsi kepemilikan non-residen pada obligasi pemerintah berdenominasi rupiah mencapai 13,4 persen pada akhir 2025.
Angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan 2019 yang mencapai 39 persen.
Tekanan terhadap arus keluar portofolio ekuitas juga meningkat pada awal 2026.
IMF mencatat kondisi tersebut antara lain terjadi di tengah seruan untuk meningkatkan operasi pasar dan transparansi.
IMF Dorong Pendalaman Pasar Keuangan
Untuk mengurangi kerentanan tersebut, IMF menyarankan Indonesia memperkuat kebijakan yang menjaga posisi fiskal.
Kerangka kebijakan yang telah berjalan juga perlu dipertahankan. Selain itu, pendalaman pasar keuangan domestik dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap modal portofolio asing.
IMF juga mendorong pemerintah melakukan reformasi struktural.
Reformasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas dan kepastian kebijakan. Langkah itu juga dinilai penting untuk mendukung iklim bisnis, perdagangan, dan investasi.
Menurut IMF, kebijakan tersebut dapat membantu mempertahankan arus masuk modal dalam jangka menengah.
Hal itu menjadi semakin penting karena perekonomian global berpotensi menghadapi periode ketidakpastian kebijakan yang panjang.
Baca Juga: 435 Ton Emas DIjual Rusia untuk Tutup Defisit Anggaran
Indonesia juga menghadapi sejumlah hambatan eksternal yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi.
IMF menilai Indonesia tetap dapat mempertahankan keseimbangan eksternal dalam jangka menengah.
Caranya antara lain dengan memperkuat penyangga dalam kerangka aturan fiskal. Pemerintah juga perlu menjalankan reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan mendorong perdagangan.
Reformasi tersebut dinilai penting karena lingkungan eksternal masih rentan terhadap berbagai guncangan.
IMF turut menyarankan peningkatan investasi infrastruktur. Investasi tersebut perlu dilakukan secara lebih besar dan efisien.
Belanja sosial juga perlu ditingkatkan. Namun, penggunaannya harus lebih efisien dan tepat sasaran.
Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat jaring pengaman sosial.
“Juga dengan pengurangan atau penghapusan pembatasan terhadap investasi asing langsung (FDI) masuk dan perdagangan luar negeri, termasuk dengan meninggalkan hambatan nontarif, serta peningkatan fleksibilitas pasar tenaga kerja,” tegas IMF.
