Impor BBM RI ke AS Naik, Sejumlah Negara Tergeser
Pemerintah berencana mengimpor komoditas energi senilai 15 miliar dollar AS dari Amerika Serikat. Kebijakan ini diperkirakan akan memicu pergeseran peta impor energi Indonesia, terutama terhadap negara-negara pemasok lama.
Sejumlah kawasan seperti Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Afrika berpotensi mengalami penurunan volume ekspor ke Indonesia seiring pengalihan sebagian pasokan energi ke Negeri Paman Sam.
Baca Juga: Wakil BGN Larang Mitra SPPG Markup Harga Bahan Pangan untuk MBG!
Pemerintah Tegaskan Tidak Tambah Volume Impor
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, rencana pembelian energi dari Amerika Serikat tidak akan menambah total volume impor nasional. Pemerintah, kata dia, hanya mengalihkan sumber pasokan dari sejumlah negara yang selama ini menjadi mitra dagang.
“Kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara. Di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun di beberapa negara di Afrika,” ujar Bahlil dalam konferensi pers virtual, beberapa waktu lalu, Kamis (26/2/2026).
Ia menambahkan, skema pembelian energi tersebut tetap akan mempertimbangkan aspek keekonomian yang saling menguntungkan. Menurut Bahlil, setiap transaksi harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, baik Amerika Serikat maupun Indonesia.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa impor LPG Indonesia saat ini mencapai sekitar tujuh juta ton per tahun. Sebagian pasokan tersebut memang sudah berasal dari Amerika Serikat dan ke depan volumenya akan ditingkatkan.
“Begitu kami mendapat arahan dari Bapak Presiden Prabowo, begitu sembilan puluh hari ke depan sudah selesai, maka langsung kita mulai tahapan eksekusi. Jadi ini langsung bisa berjalan supaya tidak ada suatu persepsi yang berbeda dari teman-teman yang ada di sana,” lsnjut dia.
Baca Juga: Cerita dari Bos BI soal Sejarah QRIS Terungkap
Rincian Komoditas dalam Perjanjian
Berdasarkan dokumen Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), nilai impor energi sebesar 15 miliar dollar AS tersebut terdiri atas beberapa komoditas utama. Porsi terbesar berasal dari produk bensin dengan nilai mencapai 7 miliar dollar AS.
Sementara itu, impor minyak mentah tercatat sebesar 4,5 miliar dollar AS dan impor LPG sebesar 3,5 miliar dollar AS.
Kesepakatan tersebut tercantum dalam Annex IV bagian barang industri. Pada poin kedua disebutkan bahwa Indonesia harus mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk mengimpor komoditas energi dari AS senilai 15 miliar dollar AS, yang meliputi:
a. Meningkatkan impor batu bara metalurgi AS untuk mendukung pembuatan baja, industrialisasi lokal, dan keandalan serta keamanan energi, dan mengurangi ketergantungan pada impor dari pelaku manipulasi pasar;
b. Meningkatkan impor teknologi batu bara canggih AS dan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, dan komersialisasi teknologi tersebut, termasuk dengan memanfaatkan semua mekanisme pendanaan yang tersedia untuk mendukung kemajuan teknologi batu bara, termasuk menggunakan batu bara dan produk sampingan batu bara untuk menghasilkan bahan bangunan, bahan baterai, serat karbon, grafit sintetis, dan bahan cetak, serta untuk bahan bakar pembangkit listrik dan proses industri lainnya;
c. Mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai 3,5 miliar dollar AS.
d. Mendukung dan memfasilitasi pembelian minyak mentah senilai 4,5 miliar dollar AS.
e. Mendukung dan memfasilitasi pembelian produk bensin senilai 7 miliar dollar AS.
Baca Juga: RI Siap Ekspor Mineral Kritis ke AS, Ini Kata Bahlil

[…] Impor BBM RI ke AS Naik, Sejumlah Negara Tergeser […]
[…] Impor BBM RI ke AS Naik, Sejumlah Negara Tergeser […]