Israel Cemas Trump dan Iran Dekati Kesepakatan, Netanyahu Terancam
Tiga bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, suasana di Israel disebut berubah drastis dari euforia menjadi kecemasan dan kemarahan.
Kesepakatan damai yang kini sedang diupayakan Presiden AS, Donald Trump, dengan Teheran memicu kekhawatiran besar di Israel. Banyak pihak menilai proses negosiasi tersebut berpotensi menjadi kegagalan strategis terbesar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Mengutip analisis The Guardian, saat perang dimulai pada Februari 2026, operasi militer gabungan AS-Israel dianggap sebagai puncak keberhasilan politik Netanyahu. Serangan besar terhadap Iran kala itu diyakini mampu menghancurkan ambisi nuklir Teheran sekaligus membuka peluang perubahan rezim.
Baca Juga : Mojtaba Dikabarkan Bersembunyi, Komunikasi Iran untuk Negosiasi Terhambat
Namun setelah tiga bulan berlalu, pemerintahan Iran tetap bertahan dan Trump justru mendorong kesepakatan baru dengan Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Kesepakatan Trump-Iran Picu Alarm di Israel
Isi awal kesepakatan yang bocor ke publik memicu kritik tajam dari media dan pengamat Israel. Pemerintah Netanyahu dinilai gagal membaca arah strategi Washington.
“Israel sepenuhnya tunduk pada keputusan presiden Amerika yang berubah-ubah, kosong, dan putus asa,” tulis komentator senior Nahum Barnea di harian Yedioth Ahronoth.
Barnea menjadi salah satu pengkritik paling keras terhadap strategi perang Israel yang oleh AS disebut Operation Epic Fury dan oleh Israel dinamai Operation Roaring Lion.
“Semakin besar kemarahan, semakin keras aumannya, semakin besar pula kekalahannya,” lanjut Barnea.
Ia memperingatkan kesepakatan baru dengan Iran justru berpotensi memperburuk posisi Israel.
“Jika perjanjian yang sedang dibicarakan saat ini ditandatangani, kerusakannya akan menjadi lebih buruk. Miliaran dolar yang akan mengalir ke kantong rezim Iran akan sangat membantu mereka,” ujarnya.
Israel Disebut Tak Dilibatkan dalam Negosiasi AS-Iran
Laporan The New York Times menyebut Israel bahkan tidak dilibatkan dalam proses negosiasi terbaru antara AS dan Iran.
Pemerintah Israel dikabarkan tidak memperoleh pembaruan resmi mengenai perkembangan pembicaraan dan hanya mengandalkan jaringan sekutu regional serta operasi intelijen untuk memantau situasi kepemimpinan Iran.
Kesepakatan yang sedang dinegosiasikan disebut tetap membatasi program nuklir Iran, tetapi banyak pihak di Israel menilai pembatasannya jauh lebih longgar dibanding kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama tahun 2015, yakni Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Netanyahu sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu pengkritik paling keras terhadap JCPOA.
Kini sejumlah analis Israel justru menilai kesepakatan baru Trump lebih buruk dibanding perjanjian era Obama tersebut.
“Kesepakatan yang sedang muncul jauh lebih buruk dibanding yang sebelumnya,” tulis Ben Caspit di surat kabar Ma’ariv.
Ia memperingatkan perang dan kesepakatan damai justru berpotensi mempercepat program nuklir Iran.
“Jika mereka (Iran) akhirnya memiliki bom nuklir, maka itu akan menjadi bom milik Bibi,” tulis Caspit menggunakan nama panggilan Netanyahu.
Ancaman Iran dan Hizbullah Masih Jadi Kekhawatiran Israel
Selain isu nuklir, ancaman lain seperti jaringan proxy Iran dan kekuatan rudal balistik Teheran disebut tidak masuk dalam agenda negosiasi saat ini.
Situasi tersebut membuat kelompok sayap kanan dalam koalisi Netanyahu mulai mendesak pemerintah agar lebih keras menghadapi tekanan Trump, terutama terkait gencatan senjata parsial dengan Hezbollah di Lebanon.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir bahkan meminta pemerintah kembali meningkatkan operasi militer di Lebanon.
“Sudah waktunya perdana menteri memukul meja Trump dan memberitahunya bahwa kita kembali berperang di Lebanon,” tulis Ben-Gvir di media sosial.
Dukungan Publik terhadap Netanyahu Mulai Menurun
Meski ancaman Iran masih menjadi alasan utama dukungan publik Israel terhadap perang, survei terbaru menunjukkan tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Netanyahu mulai menurun.
Data dari Israel Democracy Institute menunjukkan lebih dari sepertiga warga Yahudi Israel merasa tidak puas dengan penghentian perang setelah gencatan senjata diberlakukan.
Baca Juga : Trump Dekati Iran, Strategi Netanyahu Terancam Gagal
Survei yang sama juga memperlihatkan hanya sedikit di atas sepertiga warga yang menilai kinerja pemerintah Israel selama perang secara positif.
Meski begitu, sebagian pihak tetap memuji langkah Trump karena dinilai berani mengambil tindakan militer besar terhadap Iran.
“Untuk menghormati Trump, harus dikatakan bahwa setidaknya dia mencoba,” tulis Ariel Kahana di harian Israel Hayom.
Namun ia mengakui Iran berhasil membangun citra kemenangan karena rezimnya tetap bertahan meski digempur perang besar selama berbulan-bulan.
“Kesimpulannya, Iran mampu dan sedang menampilkan gambaran kemenangan kepada dunia hanya karena fakta bahwa mereka masih berdiri. Untuk saat ini Trump tidak memiliki gambaran tandingan yang serupa untuk ditunjukkan. Itu bukan kabar baik bagi rakyat Israel,” tulisnya.

[…] Israel Cemas Trump dan Iran Dekati Kesepakatan, Netanyahu Terancam […]