Israel Putus Hubungan dengan Sekjen PBB, Ada Apa?
Israel mengumumkan rencana memutus hubungan dengan pimpinan tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah simbolis tersebut diambil setelah nama Israel dimasukkan dalam laporan tahunan terkait kekerasan seksual di wilayah konflik.
“Kami sudah selesai dengan Sekretaris Jenderal PBB yang satu ini,” tegas Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, Kamis (28/5/2026).
Ia menyebut pemerintah Israel membekukan hubungan dengan kantor Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Baca Juga : Posisi Netanyahu Mulai Terancam usai AS-Iran Dekati Kesepakatan
Meski demikian, Israel tetap menjadi anggota PBB dan masih dapat berinteraksi dengan sejumlah badan di bawah organisasi tersebut secara terpisah di luar kantor sekjen.
Masuknya Israel dalam daftar hitam laporan kekerasan seksual dinilai dapat berdampak negatif terhadap posisi negara tersebut di forum internasional, termasuk partisipasi dalam misi penjaga perdamaian PBB.
PBB Tegaskan Pintu Dialog Tetap Terbuka
Menanggapi keputusan Israel, juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menegaskan bahwa pihaknya tetap membuka ruang komunikasi.
“Pintu Sekretaris Jenderal secara kiasan maupun harfiah selalu terbuka bagi perwakilan dari misi Israel,” ujar Dujarric kepada wartawan.
“Kami ingin dapat berdialog dan berbicara dengan semua perwakilan yang berada di gedung ini,” lanjutnya.
Ketegangan antara Israel dan pejabat tinggi PBB sendiri bukan hal baru. Hubungan keduanya selama ini kerap memanas akibat perbedaan pandangan terkait kebijakan Israel di Gaza dan Tepi Barat.
Ketegangan Israel dan PBB Kian Memburuk
Analis International Crisis Group, Daniel Forti, menilai keputusan Israel memiliki makna simbolis besar di tengah hubungan yang memang sudah memburuk.
“Meskipun Israel kemungkinan besar akan melanjutkan kerja sama teknis dengan beberapa badan PBB, makna simbolis di balik keputusan Tel Aviv menangguhkan hubungan dengan diplomat tertinggi PBB ini tidak dapat diabaikan,” ujarnya.
“Keputusan ini menjadi retakan baru dalam hubungan yang memang sudah rusak antara PBB dan pemerintah Israel,” tambah Forti.
Hubungan kedua pihak semakin memburuk sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang yang terjadi setelahnya.
Israel menuding badan dunia tersebut bersikap bias terhadap negaranya. Sementara itu, berbagai lembaga PBB berulang kali mengecam besarnya krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.
Israel Tuduh PBB Bersikap Bermusuhan
Kementerian Luar Negeri Israel menyebut keputusan PBB memasukkan Israel dalam laporan tersebut sebagai bentuk permusuhan institusional.
“Keputusan ini adalah contoh lain dari permusuhan institusional PBB terhadap Israel yang sudah berlangsung lama,” tulis kementerian itu dalam unggahan di platform X.
Sebelumnya, Antonio Guterres telah memperingatkan Israel dan Rusia mengenai kemungkinan masuk ke dalam daftar tersebut.
Baca Juga : Ketegangan Memanas, IRGC Serang Pangkalan Udara AS
Dalam surat kepada utusan Israel di PBB tahun lalu, Guterres menyebut laporan PBB menemukan “informasi kredibel mengenai pelanggaran yang dilakukan pasukan bersenjata dan aparat keamanan Israel terhadap warga Palestina di sejumlah penjara, pusat penahanan, dan pangkalan militer.”
Misi Israel untuk PBB mengecam keras keputusan tersebut. Mereka mengklaim telah menyerahkan berbagai dokumen dan data kepada PBB guna menjawab tuduhan yang disampaikan.
“Meski demikian, Sekretaris Jenderal PBB memilih mengambil keputusan politik dan memasukkan Israel sejajar dengan Hamas serta organisasi teroris,” demikian pernyataan misi Israel.
