Korsel Kirim Tim Cek Selat Hormuz di Tengah Desakan Trump
Korea Selatan mengirim tim pencari fakta ke kawasan Selat Hormuz untuk menilai situasi dan kondisi keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Langkah itu dilakukan di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar Seoul memberikan bantuan dalam perang AS melawan Iran di Timur Tengah.
Namun, Korea Selatan menegaskan bahwa pengiriman tim pencari fakta tersebut tidak berarti pemerintah telah memutuskan untuk mengerahkan pasukan ke Selat Hormuz.
Baca Juga: Bansos Makin Tepat, Prabowo Siapkan Rekening Bank Otomatis
Korsel Kirim Tim untuk Cek Kondisi Selat Hormuz
“Kami telah mengirim tim pencari fakta untuk menilai kondisi di lapangan di Selat Hormuz,” kata Kementerian Pertahanan Korea Selatan pada Selasa (8/9/2026), seperti dikutip AFP.
“Belum ada keputusan mengenai pengerahan pasukan,” tambah pernyataan tersebut.
Tim pencari fakta itu berangkat menuju Uni Emirat Arab pada akhir pekan. Menurut kantor berita Yonhap yang mengutip sejumlah pejabat, tim tersebut juga menilai kondisi operasional yang dapat menjadi pertimbangan apabila nantinya dilakukan pengerahan pasukan.
Tim tersebut diperkirakan kembali ke Korea Selatan paling cepat pada pekan ini. Kementerian Pertahanan Korea Selatan menolak memberikan komentar kepada AFP terkait laporan tersebut.
Didesak Trump, Korsel Juga Diperingatkan Iran
Pengiriman tim tersebut dilakukan ketika Korea Selatan menghadapi tekanan dari Trump untuk memberikan dukungan terhadap upaya perang Washington di Timur Tengah.
Trump telah berulang kali mendesak sekutunya tersebut agar memberikan bantuan. Namun, Seoul membantah bahwa pemerintah AS telah memberikan batas waktu tertentu untuk mengerahkan pasukan.
Pada Jumat (4/9/2026), Korea Selatan mengatakan sedang mempertimbangkan bentuk kontribusi terhadap upaya keamanan AS di sepanjang Selat Hormuz. Meski demikian, Seoul kembali menegaskan belum ada keputusan mengenai pengerahan pasukan.
Selat Hormuz menjadi sangat penting dalam konflik AS-Iran karena jalur tersebut menghubungkan kawasan Teluk dengan perairan internasional. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz hampir lumpuh sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari. Gangguan tersebut turut mengguncang pasar energi global dan mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Baca Juga: Houthi Serang 4 Kota Saudi, Perang AS-Iran Meluas
Di tengah situasi itu, Iran juga memperingatkan Korea Selatan mengenai konsekuensi jika Seoul memberikan kontribusi militer dalam konflik.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan setiap pengerahan militer atau keterlibatan negara lain dalam operasi di Teluk Persia maupun Selat Hormuz akan dipandang sebagai dukungan langsung terhadap pihak yang disebut Iran bertanggung jawab atas agresi.
“Setiap pengerahan militer atau partisipasi dalam operasi oleh negara lain di Teluk Persia atau Selat Hormuz hanya dapat dianggap sebagai dukungan langsung terhadap pihak yang bertanggung jawab atas agresi tersebut dan akan menimbulkan konsekuensi serius,” kata Baqaei dalam unggahan berbahasa Korea di platform X.
Baqaei juga memperingatkan Seoul agar tidak menyerah pada apa yang disebutnya sebagai tekanan dan intimidasi AS.
Sementara itu, negosiasi antara Iran dan AS dilaporkan terhenti ketika kedua negara bersaing memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.
