Mengapa Trump Menginginkan Greenland? Ini Asal-Usul Wilayahnya
Ambisi untuk menguasai Greenland kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyusul serangan militer AS ke Venezuela.
Berbanding terbalik dengan namanya, Greenland, yang berarti “Tanah Hijau”, merupakan sebuah pulau yang sebagian besar wilayahnya justru tertutup es. Meski berada di bawah kedaulatan Denmark, pulau ini sejak berabad-abad lalu dikenal memiliki nama yang terkesan menyesatkan dan menyimpan latar sejarah yang unik.
Faktanya, Greenland hampir tidak memiliki wilayah berwarna hijau. Sebagian besar permukaannya diselimuti lapisan es raksasa, kondisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun terakhir. Nama “Tanah Hijau” sendiri bukanlah cerminan kondisi geografisnya saat ini.
Di balik penamaannya, terdapat kisah yang memadukan strategi pemasaran, perubahan iklim, serta jejak bangsa Viking.
Baca Juga : Iran Dilanda Konflik, Negara – Negara Arab Diam?
Mengutip Visit Greenland, Senin (19/1/2025), nama tersebut dipilih dengan tujuan menarik minat orang untuk datang dan menetap di pulau tersebut.
Sejarah Singkat Greenland
Pulau Greenland ditemukan oleh tokoh Viking bernama Erik Thorvaldsson, yang lebih dikenal sebagai Erik si Merah, sekitar abad ke-10. Ia menamai pulau itu Greenland sebagai strategi untuk memikat lebih banyak pemukim agar bersedia tinggal di wilayah yang sebagian besar diselimuti es.
Profesor Geografi Universitas Negeri Arizona, Randall Cerveny, dalam surat elektroniknya kepada USA Today, mengungkapkan, asal usul nama Greenland adalah hasil dari pemasaran komersial semata. Dalam salah satu Saga Islandia, tertulis bahwa penemu Greenland, Erik si Merah, yang pergi untuk menetap di negeri yang telah dia temukan, yang disebut Greenland, karena menurutnya orang-orang akan tertarik ke sana jika negeri itu memiliki nama yang baik.
Merujuk dari Iceland Discover, Cerveny menjelaskan, bahwa Erik si Merah sengaja memilih nama yang terdengar menarik agar mendorong lebih banyak orang pindah ke pulau tersebut, yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1000 Masehi.
Namun, dalam bahasa aslinya, Greenland dikenal sebagai Kalaallit Nunaat atau “Tanah Kalaallit”. Nama ini merujuk pada suku Kalaallit, kelompok masyarakat Inuit yang merupakan penduduk asli Greenland dan bermukim di wilayah barat pulau tersebut.
Baca Juga : Respons Gedung Putih Terkait Penyelidikan The Fed
Greenland Tidak Selalu Membeku
Saat pertama kali dinamai, Greenland kemungkinan tidak sedingin kondisinya sekarang. Meski telah tertutup es selama ribuan tahun, pulau ini sempat mengalami periode penghijauan lokal pada masa Anomali Iklim Abad Pertengahan (Medieval Warm Period) sekitar tahun 900 hingga 1.300 M, ketika bangsa Viking menetap di wilayah tersebut.
Pada periode itu, sekitar 80% wilayah Greenland masih tertutup es. Namun, kondisi saat ini menunjukkan perubahan signifikan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2024 menyebutkan bahwa lapisan es Greenland mencair dengan cepat dan mulai digantikan oleh vegetasi akibat pemanasan global.
Ilmuwan bumi dari Universitas Leeds, Inggris, Jonathan Carrivick, menyatakan bahwa beberapa wilayah Greenland kini kembali menghijau untuk pertama kalinya sejak kedatangan bangsa Viking hampir 1.000 tahun lalu. Area yang sebelumnya tertutup salju dan es kini berubah menjadi semak belukar, lahan basah, serta bebatuan terbuka.
Studi tersebut memperkirakan sekitar 11.000 mil persegi lapisan es dan gletser Greenland telah mencair dalam 30 tahun terakhir. Luas area yang kehilangan es ini bahkan sedikit lebih besar dibandingkan negara bagian Massachusetts di AS dan mencakup sekitar 1,6% dari total tutupan es dan gletser Greenland.
Di sisi lain, Greenland juga pernah mencatat suhu terdingin di belahan bumi utara, yakni sekitar -93,3 derajat Fahrenheit atau setara -69,61 derajat Celsius. Pulau ini memiliki luas lebih dari 836.000 mil persegi, atau sekitar tiga kali luas Texas, dengan sekitar 80% wilayahnya masih tertutup lapisan es tebal.
Persepsi ukuran Greenland di peta sering kali menyesatkan akibat keterbatasan peta datar. Dalam beberapa peta, Greenland tampak sebanding dengan Afrika. Hal ini terutama disebabkan oleh penggunaan proyeksi Mercator, yang meregangkan wilayah dekat Kutub Utara agar sesuai dengan permukaan datar Bumi, sehingga daratan di lintang tinggi terlihat jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya.
Baca juga: Kenapa Negara-Negara Arab “Diam” saat Iran Dilanda Konflik?

[…] Mengapa Trump Menginginkan Greenland? Ini Asal-Usul Wilayahnya […]