Negosiasi Mandek, Iran Sebut Tuntutan AS Terlalu Berlebihan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan Amerika Serikat atas gagalnya putaran terbaru negosiasi antara kedua negara, meski sebelumnya sempat menunjukkan kemajuan.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat tiba di Saint Petersburg pada Senin (27/4/2026) dalam rangkaian tur diplomatik Iran.
“Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” ungkap Araghchi.
Ia merujuk pada perundingan terakhir di Islamabad yang menjadi satu-satunya pertemuan langsung dan berakhir tanpa kesepakatan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran tetap memiliki opsi untuk melanjutkan dialog.
“Mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami,” ujar Trump, seraya menegaskan pembatalan pengiriman utusan tidak berarti kembali ke konflik terbuka.
Baca Juga: Israel Kirim Sistem Iron Dome ke UEA, Sebut untuk Tangkis Rudal Iran
Diplomasi mandek, jalur belakang tetap berjalan
Meski negosiasi formal menemui jalan buntu, komunikasi tidak langsung antara kedua negara dilaporkan masih berlangsung.
Iran disebut telah mengirim “pesan tertulis” kepada AS melalui Pakistan yang memuat sejumlah garis merah, termasuk terkait isu nuklir dan penguasaan Selat Hormuz.
Di saat yang sama, laporan media menyebut Teheran juga mengajukan proposal baru yang berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian blokade laut oleh AS, dengan pembahasan nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik karena perannya sebagai jalur utama distribusi energi global.
Penutupan selat tersebut oleh Iran telah mengganggu pasokan minyak, gas, hingga pupuk, memicu lonjakan harga dan kekhawatiran krisis pangan di berbagai negara berkembang.
Amerika Serikat merespons dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran di kawasan tersebut.
Namun, pihak Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa penguasaan atas Selat Hormuz merupakan strategi utama yang tidak akan dicabut.
Ketegangan meluas hingga Lebanon
Di tengah kebuntuan diplomasi, konflik juga terus berlanjut di Lebanon meski gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah diperpanjang.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan militernya akan terus melakukan tindakan tegas.
“Ini berarti kebebasan bertindak tidak hanya untuk merespons serangan, tetapi juga untuk mencegah ancaman langsung dan bahkan ancaman yang sedang berkembang,” ujar Netanyahu.
Serangan terbaru dilaporkan menyebabkan 14 orang tewas di selatan Lebanon, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak gencatan senjata diberlakukan.
Sementara itu, Israel juga melaporkan satu tentaranya tewas dalam pertempuran, menandakan konflik di kawasan masih jauh dari mereda.
Baca Juga: Rusia Jadi “Tempat Curhat”, Menlu Iran Ceritakan Nasib Nego AS

[…] Negosiasi Mandek, Iran Sebut Tuntutan AS Terlalu Berlebihan […]