Di Hadapan Putin, Menlu Iran Bongkar Aib Besar Trump
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melayangkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat atas mandeknya proses perundingan damai di Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia melakukan kunjungan resmi ke Rusia pada Senin (28/4/2026).
Di tengah situasi yang menemui kebuntuan, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan negaranya untuk mendukung berbagai langkah diplomasi demi mengakhiri konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Kunjungan Araghchi ke kota Saint Petersburg menjadi bagian dari rangkaian lawatan diplomatik cepat setelah sebelumnya ia menyambangi Oman dan Pakistan. Pakistan diketahui berperan sebagai mediator utama dalam konflik dan telah memfasilitasi putaran awal pembicaraan antara AS dan Iran, meski belum menghasilkan kesepakatan.
Baca Juga : 6 Kali Lolos Insiden Penembakan, Trump Selamat dari Insiden Makan Malam
Harapan untuk melanjutkan dialog sempat muncul pada akhir pekan sebelumnya, tetapi pupus setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusannya, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner. Mengutip AFP, Araghchi menilai langkah Washington menjadi penghambat utama dalam proses negosiasi.
“Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” ujar Araghchi dalam keterangannya.
Di sisi lain, Presiden Trump menyampaikan melalui Fox News bahwa pembatalan tersebut tidak menandakan kembalinya permusuhan. Ia menegaskan bahwa Iran tetap memiliki kesempatan untuk menghubunginya jika benar-benar ingin melanjutkan dialog. Namun, Iran masih menuntut jaminan keamanan yang lebih jelas sebelum memberikan komitmen baru.
Utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, juga menyampaikan sikap negaranya dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Ia menegaskan bahwa stabilitas kawasan hanya dapat terwujud apabila agresi terhadap Iran dihentikan secara permanen.
“Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat dicapai melalui penghentian agresi yang tahan lama dan permanen terhadap Iran, dilengkapi dengan jaminan yang kredibel bahwa hal itu tidak akan terulang kembali,” tegas Iravani.
Sengketa Jalur Perdagangan Global
Ketegangan antara Iran dan AS semakin meningkat terkait rencana Teheran untuk mengelola Selat Hormuz secara mandiri.
Pemerintah Iran dilaporkan telah mengirimkan pesan resmi kepada Washington melalui Pakistan mengenai sejumlah “garis merah”, termasuk isu nuklir serta pengelolaan jalur laut strategis tersebut.
Ketua komisi keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyampaikan bahwa parlemen tengah merancang undang-undang baru. Aturan tersebut bertujuan memberi kewenangan penuh kepada angkatan bersenjata Iran untuk mengawasi selat, dan menetapkan pungutan yang wajib dibayar menggunakan mata uang Rial Iran.
Baca juga : Negosiasi Mandek, Iran Sebut Tuntutan AS Terlalu Berlebihan
Namun, rencana tersebut mendapat penolakan tegas dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Iran mengendalikan jalur laut internasional secara sepihak.
“Mereka tidak dapat menormalkan dan kita tidak dapat menoleransi mereka mencoba menormalkan-sebuah sistem di mana orang Iran memutuskan siapa yang boleh menggunakan jalur air internasional, dan berapa banyak Anda harus membayar mereka untuk menggunakannya,” tegas Rubio.
Eskalasi di Front Lebanon
Sementara upaya diplomasi masih berjalan lambat, kekerasan terus terjadi di wilayah selatan Lebanon. Data dari kementerian kesehatan setempat menyebutkan bahwa serangan yang dilakukan oleh Israel menewaskan empat orang dan melukai puluhan lainnya, termasuk anak-anak, meskipun kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah telah diperpanjang.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel. Ia menyebut langkah tersebut sebagai kesalahan besar dan menegaskan pihaknya akan terus bertahan di medan konflik.
Sebagai respons, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberikan peringatan keras kepada Qassem. Ia menyatakan bahwa tindakan Hizbullah berpotensi memicu respons militer yang lebih luas dari Israel.
“Qassem sedang bermain api,” ujar Katz memperingatkan.
, Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, juga menyampaikan hal yang sama, ia memperkirakan konflik tidak akan segera mereda.
Ia bahkan memproyeksikan bahwa ketegangan militer kemungkinan masih akan berlangsung hingga tahun berikutnya.
“Tahun 2026 kemungkinan besar akan menjadi tahun pertempuran lainnya bagi Israel di semua lini,” pungkas Zamir.
Baca Juga : Selamat Lagi dari Insiden Penembakan, Trump Merasa Superior

[…] Di Hadapan Putin, Menlu Iran Bongkar Aib Besar Trump […]
[…] Di Hadapan Putin, Menlu Iran Bongkar Aib Besar Trump […]