Netanyahu Desak Trump Serang Iran Usai Pemilu Sela AS
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Iran setelah pemilu sela AS pada Selasa (3/11/2026).
Mengutip laporan South China Morning Post, desakan tersebut disampaikan Netanyahu saat berbicara melalui telepon dengan Trump pada akhir pekan lalu. Seorang pejabat regional menyebut Netanyahu juga bekerja sama dengan sejumlah pejabat senior pemerintahan AS untuk meyakinkan Trump agar melancarkan operasi serangan udara secara cepat dan masif.
Meski demikian, Trump belum memutuskan apakah akan kembali menyerang Iran.
Dua pejabat regional mengatakan, Netanyahu mendorong operasi militer baru ketika dirinya dan sekutu sayap kanannya kehilangan mayoritas kursi di parlemen Israel dalam pemilu pekan sebelumnya. Perang skala penuh dengan Iran dinilai berpotensi menjadi jalan bagi Netanyahu untuk membentuk pemerintahan darurat.
Baca Juga : Trump Sebut Pemilu Sela AS 2026 yang Paling Penting Untuknya
Sebelumnya, Netanyahu juga pernah mendorong serangan baru terhadap Iran menjelang pemilu Israel. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperkuat citra dan rekam jejaknya di bidang keamanan di mata masyarakat Israel yang masih terdampak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
AS Masih Utamakan Jalur Diplomasi
Di tengah dorongan untuk kembali menyerang Iran, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran masih berjalan. Dua pejabat regional mengungkapkan bahwa Qatar telah menggelar dua putaran pembicaraan dengan pejabat Iran pada pekan lalu.
Mediator Qatar berupaya merancang kerangka kesepakatan yang mengharuskan Iran menghentikan serangan di Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, AS diharapkan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Putaran pembicaraan berikutnya dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa pemerintahan Trump masih memprioritaskan penyelesaian konflik melalui diplomasi. Dalam konferensi pers pada Sabtu (31/10/2026), Rubio menyebut Trump belum menentukan langkah terkait kemungkinan serangan lanjutan ke Iran.
“Dia lebih memilih menyelesaikan masalah ini secara diplomatik,” kata Rubio.
Meski demikian, Rubio menyatakan Trump sangat percaya terhadap kemampuan militer AS apabila tindakan militer diperlukan.
Wakil Presiden AS JD Vance juga menunjukkan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran. Pada Senin (2/11/2026), Vance mengatakan bahwa dirinya dan Trump cukup yakin penyelesaian melalui negosiasi masih dapat diwujudkan.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Vance mengirimkan surat kepada Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei pada pekan lalu.
Rezaei kemudian menyebut perubahan nada komunikasi dari AS sebagai sinyal yang sangat positif dalam wawancara dengan televisi pemerintah. Namun, ia tidak mengungkapkan isi surat Vance dan mengaku belum mengirimkan balasan.
Sekutu AS Khawatir Konflik Meluas
Sejumlah negara sekutu AS di Timur Tengah memperingatkan bahwa serangan baru terhadap Iran berisiko memperburuk ketegangan di kawasan.
Seorang pejabat regional menilai eskalasi militer dapat memicu kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman untuk meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal yang melintasi Laut Merah. Kelompok milisi yang didukung Iran di Irak juga berpotensi ikut terseret dalam konflik.
Kekhawatiran tersebut turut mengemuka dalam Manama Dialogue, konferensi keamanan tahunan di Bahrain yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies.
Penasihat Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Gargash menilai jarak antara posisi AS dan Iran masih terlalu jauh.
“Jika posisi-posisi ini tidak dijembatani, kita harus mengkhawatirkan kemungkinan terburuk,” ujar Gargash.
Peringatan serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty. Ia mengatakan eskalasi konflik berikutnya berpotensi jauh lebih berbahaya dan menimbulkan kerusakan lebih besar, tanpa memberikan jalan keluar bagi kedua pihak.
Sementara itu, China mengumumkan rencana mengirim utusan khusus ke Iran, Oman, dan Arab Saudi pada awal hingga pertengahan November. Kunjungan tersebut bertujuan membahas perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan, Presiden Xi Jinping berpandangan bahwa kawasan Teluk Timur Tengah tidak seharusnya menjadi tempat persaingan kekuatan besar maupun konflik geopolitik.
Iran Siap Hadapi Perang dan Diplomasi
Di tengah berlangsungnya upaya perundingan, Iran menegaskan kesiapannya menghadapi kemungkinan perang dengan AS dan Israel.
Baca Juga : Bareskrim Beberkan Dugaan Korban Penyadapan LSP, Ada Prabowo
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan, setiap ancaman dari AS maupun Israel, dalam bentuk dan tingkat apa pun, harus direspons secara cepat tanpa dibatasi wilayah geografis. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama sejumlah petinggi militer Iran.
Khamenei juga meminta agar daftar target potensial diperluas sebagai bagian dari persiapan menghadapi ancaman militer.
Meski meningkatkan kesiagaan militernya, Iran masih membuka peluang untuk berdialog. Namun, Teheran menginginkan jaminan bahwa Washington akan menjalankan seluruh kewajibannya apabila kesepakatan berhasil dicapai.
Keraguan Iran muncul karena AS dan Israel tercatat telah dua kali melancarkan serangan ketika Teheran sedang menjalani perundingan terkait program nuklirnya yang selama ini menjadi sumber perselisihan.
