Netanyahu Dikritik Usai Klaim Menang Perang Melawan Iran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi gelombang kritik setelah menyatakan negaranya berhasil memenangkan perang melawan Iran. Sejumlah tokoh oposisi menilai klaim tersebut tidak sejalan dengan kondisi di lapangan karena pemerintahan Iran tetap bertahan setelah konflik berakhir.
Kritik muncul tak lama setelah Netanyahu menggelar konferensi pers pertamanya dalam tiga bulan terakhir. Kegiatan tersebut dilakukan usai Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang menjadi langkah awal berakhirnya perang yang berlangsung sejak Februari 2026.
Baca Juga : 5 Poin Penting Kesepakatan Iran-AS yang Menggemparkan Dunia
Para pengkritik menilai tujuan utama operasi militer Israel bersama Amerika Serikat, termasuk menciptakan kondisi bagi perubahan rezim di Teheran, belum berhasil diwujudkan.
Netanyahu Klaim Perang Berhasil
Dalam konferensi pers tersebut, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer selama enam pekan terhadap Iran telah menghilangkan ancaman nuklir dan rudal yang selama ini dianggap membahayakan Israel.
Ia menyatakan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, baik saat ini maupun di masa mendatang, selama dirinya masih menjabat sebagai perdana menteri.
Menurut Netanyahu, mencegah Iran memperoleh kemampuan nuklir telah menjadi salah satu misi terpenting dalam perjalanan politiknya. Ia juga mengklaim Israel, bersama Amerika Serikat, berhasil melumpuhkan berbagai elemen strategis milik Iran.
Netanyahu menyebut serangan yang dilakukan merupakan operasi ofensif terbesar dalam sejarah Israel. Ia mengklaim pasukan Israel berhasil menargetkan ilmuwan nuklir, menghancurkan fasilitas pengembangan senjata, merusak infrastruktur militer, serta mengurangi kemampuan produksi rudal Iran.
Selain itu, ia menegaskan operasi tersebut turut memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran.
Target Menjatuhkan Rezim Iran Dipertanyakan
Klaim kemenangan Netanyahu kemudian menuai pertanyaan terkait keberhasilan tujuan yang sebelumnya dikaitkan dengan upaya melemahkan bahkan mengganti rezim Iran.
Seorang wartawan menyinggung fakta bahwa pemerintahan Iran masih tetap berdiri setelah perang berakhir. Namun, Netanyahu menolak anggapan bahwa operasi militer tersebut gagal mencapai target.
Ia menegaskan tujuan resmi yang ditetapkan pemerintah Israel bukanlah menjatuhkan pemerintahan Iran, melainkan menghilangkan ancaman eksistensial yang berasal dari program nuklir dan kemampuan rudal balistik negara tersebut.
Menurut Netanyahu, kedua sasaran utama itu telah berhasil dicapai.
Meski demikian, ia mengakui tidak dapat memastikan kapan perubahan politik di Iran akan terjadi. Netanyahu hanya menyebut bahwa tekanan ekonomi dan kerusakan infrastruktur yang dialami Iran berpotensi menciptakan kondisi bagi perubahan di masa depan.
Ia juga menilai terdapat tanda-tanda ketidakstabilan di dalam pemerintahan Iran, meskipun belum bisa dipastikan dampaknya terhadap keberlangsungan rezim saat ini.
Oposisi Sebut Netanyahu Gagal Wujudkan Target Perang
Pernyataan Netanyahu langsung mendapat respons keras dari sejumlah tokoh oposisi Israel.
Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menilai pemerintahan Netanyahu justru meninggalkan berbagai kegagalan besar, termasuk dalam menghadapi Iran.
Menurut Bennett, masa kepemimpinan Netanyahu diwarnai berbagai krisis serius dan berakhir tanpa keberhasilan nyata dalam mencapai target strategis terhadap Teheran.
Ia bahkan menyatakan peluang perubahan rezim di Iran justru akan lebih besar apabila terjadi pergantian pemerintahan di Israel terlebih dahulu.
Kritik serupa datang dari pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot. Ia menilai Netanyahu seharusnya mengakui bahwa sejumlah target yang sebelumnya diumumkan kepada publik tidak berhasil dicapai.
Menurut Eisenkot, pengakuan atas kesalahan justru akan meningkatkan kepercayaan dan penghargaan masyarakat terhadap kepemimpinan Netanyahu.
Baca Juga : IMF Sebut Perdamaian Iran-AS Belum Bisa Akhiri Dampak Ekonomi Global
Sementara itu, pemimpin oposisi Yair Lapid mempertanyakan konsistensi pernyataan Netanyahu mengenai ancaman Iran. Ia menilai sulit menerima dua narasi yang saling bertentangan, yakni Israel sebagai kekuatan dominan di kawasan sekaligus negara yang berada di ambang kehancuran akibat ancaman Iran.
Kritik juga disampaikan pemimpin Partai Demokrat, Yair Golan. Menurutnya, apabila Iran masih dianggap sebagai ancaman besar setelah puluhan tahun menjadi fokus utama kebijakan keamanan Israel, maka hal tersebut justru mencerminkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang selama ini diklaim diperjuangkan Netanyahu.
Perdebatan mengenai hasil akhir perang melawan Iran diperkirakan masih akan terus berlangsung di tengah dinamika politik domestik Israel yang semakin memanas menjelang agenda politik berikutnya.

[…] Netanyahu Dikritik Usai Klaim Menang Perang Melawan Iran […]