Hormuz Dibuka, RI Tetap Lanjutkan Impor Minyak Rusia
Pemerintah memastikan tetap melanjutkan rencana impor minyak mentah dari Rusia dan sejumlah negara lain meski Selat Hormuz segera kembali dibuka setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Baca Juga: 14 Poin Kesepakatan AS-Iran Terungkap, Apa Saja Isinya?
Keputusan tersebut disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyusul laporan bahwa Washington dan Teheran telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Mengutip Axios, dua pejabat AS menyebut dokumen kesepakatan telah ditandatangani secara elektronik dan kini resmi berlaku. Salah satu pejabat bahkan mengatakan Presiden AS Donald Trump turut menandatangani langsung dokumen tersebut.
Menanggapi perkembangan itu, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan pemerintah tetap menjalankan strategi diversifikasi pasokan energi guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan cadangan energi nasional.
Dwi mengatakan kondisi geopolitik di Timur Tengah masih sangat dinamis sehingga pemerintah perlu memastikan pasokan energi tetap aman dari berbagai sumber.
“Presiden (Prabowo Subianto) sudah memberikan instruksi jelas melalui Keppres 26 Tahun 2026 tentang pengadaan BBM, ada Badan Usaha seperti Lemigas di antaranya yang juga diberikan kewenangan untuk melakukan impor dalam hal memperkuat ketahanan energi nasional kita,” katanya di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, dikutip Kamis (18/6/2026).
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak bergantung pada satu negara dalam memenuhi kebutuhan minyak mentah nasional.
Karena itu, pembelian minyak akan terus dilakukan dari berbagai negara sesuai kebutuhan dan kondisi pasar global.
“Jadi apapun upayanya, pembelian minyak tidak hanya dari Rusia, dari negara lain, kecuali Timur Tengah yang memang sekarang sedang berkonflik, pasti akan diupayakan,” katanya.
Dwi menambahkan pemerintah juga terus menjajaki sumber pasokan energi alternatif dari berbagai negara guna menjaga stabilitas stok nasional.
Beberapa negara yang menjadi opsi pemasok antara lain Nigeria, Angola, hingga Amerika Serikat.
Baca Juga: MBS Soroti Stabilitas, Arab Saudi Sambut Damai AS-Iran
“Darimana pun sumbernya pasti akan diupayakan agar bisa memperkuat kondisi stok energi nasional kita,” katanya.
Pemerintah menilai strategi diversifikasi pasokan energi tetap diperlukan meskipun Selat Hormuz kembali dibuka, mengingat situasi keamanan dan politik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi berubah sewaktu-waktu.
