Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri, Singgung Jokowi
Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik yang menyebut dirinya terlalu sering melakukan kunjungan ke luar negeri sejak menjabat sebagai kepala negara.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung, Lampung, Rabu (10/6/2026).
Ia menilai kritik terhadap presiden terkait aktivitas luar negeri kerap muncul, terlepas dari seberapa sering seorang pemimpin melakukan perjalanan ke negara lain.
“Jadi, ada presiden kayak Pak Jokowi yang jarang keluar negeri. Disalahkan ya kan ‘Jokowi nggak pernah ke luar negeri. Jokowi tidak peduli politik luar negeri’,” tutur Prabowo.
Baca Juga: Target Industri 2027 Terancam, Anggaran Kemenperin Dipangkas
“Saya sering ke luar negeri, ‘Prabowo sering ke luar negeri’. Aneh… Sebenernya tidak ada masalah gitu. Bener nggak?,” lanjut dia.
Menurut dia, dinamika geopolitik global saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun lalu sehingga menuntut Indonesia untuk tetap menjaga hubungan dengan berbagai negara.
Ia mengatakan Indonesia beruntung memiliki warisan politik luar negeri yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa, yakni politik non-blok dan tidak berpihak kepada kekuatan tertentu.
“Sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa. Kita beruntung, saya beruntung. Presiden Indonesia menerima warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita. Bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non-aligned, politik non-blok. Kita bersahabat sama semua negara, kita bersahabat sama semua kekuatan, kita tidak mau terlibat dengan pakta-pakta militer siapapun,” terang dia.
Prabowo pun menegaskan bahwa sejak menerima mandat sebagai presiden, dirinya langsung menetapkan arah kebijakan luar negeri yang melanjutkan prinsip bebas aktif dan non-blok yang selama ini dianut Indonesia.
“Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai presiden, saya langsung, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-aligned, politik nonblok, politik bebas aktif. 1.000 kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh,” tambah dia.
Untuk menunjukkan posisi Indonesia yang tidak berpihak, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya menjalin hubungan baik dengan berbagai pemimpin dunia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca Juga: Alasan Reformasi Subsidi Listrik RI Diungkap Luhut
Meski demikian, ia mengaku tetap menerima kritik dari sejumlah pihak terkait langkah-langkah yang diambilnya dalam menjalankan diplomasi internasional.
“Di sini saya disalahkan, di situ saya disalahkan. Tapi nggak ada masalah. Saudara-saudara, noise selalu ada. Yang penting kita yakin garis kita di mana. Selama saya yakin saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia selamanya saya tidak ragu-ragu,” pungkas dia.
