Jelang Gencatan Berakhir, Iran Klaim Stok Rudalnya Melebihi Sebelum Perang
Dalam masa gencatan senjata antara Amerika Serikat, Israel, dengan Iran. Teheran dilaporkan memanfaatkan periode tersebut untuk memperkuat persenjataan militernya, khususnya rudal dan drone.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad mulai berlaku pada Rabu (8/4/2026), dengan durasi dua pekan. Dengan demikian, masa penghentian sementara konflik tersebut dijadwalkan berakhir dua hari lagi, yakni pada Rabu (22/4/2026).
Konflik antara koalisi AS–Israel dan Iran bermula, ketika serangan militer dilancarkan ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan menargetkan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Presiden Iran Tegaskan Ingin Akhiri Perang Secara Bermartabat
Iran Tingkatkan Cadangan Rudal dan Drone Selama Gencatan Senjata
Mengutip laporan media Iran Tasnim News Agency, Minggu (19/4/2026), Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (Korps Garda Revolusi Islam), Majid Mousavi, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pembangunan kembali persediaan rudal, dan drone selama periode gencatan senjata berlangsung.
Dalam unggahan di media sosial, Mousavi menampilkan rekaman aktivitas perawatan dan rekonstruksi sistem persenjataan, termasuk pengisian ulang peluncur rudal dan drone. Ia mengklaim bahwa proses pengisian ulang tersebut bahkan berlangsung lebih cepat dibandingkan periode sebelum konflik dimulai.
“Kita memiliki informasi bahwa musuh tidak mampu menciptakan kondisi seperti itu untuk dirinya sendiri dan terpaksa mendatangkan amunisi dari belahan dunia lain secara bertahap,” kata Mousavi.
Ia juga menyebut bahwa pihak lawan mengalami kerugian dalam tahap konflik yang berlangsung.
“Mereka juga kalah dalam tahap perang ini! Mereka telah kehilangan Selat Hormuz, dan mereka juga telah kehilangan Lebanon dan kawasan ini,” kata Mousavi.
AS Sebut Iran Masih Pertahankan 40-60 Persen Persenjataannya
Laporan dari Anadolu Agency, pejabat intelijen dan militer AS menilai Iran masih mempertahankan sebagian besar kekuatan militernya, meskipun telah menerima serangan berulang dari AS dan Israel.
Menurut laporan tersebut, Iran masih memiliki sekitar 40 persen drone dari total sebelum perang, serta lebih dari 60 persen peluncur rudal. Selain itu, lebih dari 100 sistem peluncur yang tersembunyi di gua, dan bunker telah ditemukan sejak dimulainya gencatan senjata.
Temuan ini menunjukkan bahwa Iran terus berupaya memulihkan kapasitas militernya. Upaya tersebut juga mencakup penggalian kembali rudal yang tertimbun di bawah reruntuhan fasilitas militer yang sebelumnya diserang.
Beberapa analisis menyebutkan bahwa Iran berpotensi memulihkan hingga 70 persen kekuatan militernya setelah proses pemulihan selesai. Walaupun fasilitas produksi senjata mengalami kerusakan berat, pejabat AS menilai Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Sekarang semua orang tahu bahwa jika terjadi konflik di masa depan, menutup selat itu akan menjadi hal pertama yang ada dalam rencana Iran,” kata Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel.
Ia menambahkan bahwa kapal tanker komersial memiliki perlindungan terbatas dibandingkan kapal militer, sehingga berpotensi menjadi target yang rentan.
Rusia dan Israel Beri Respons atas Klaim Iran
Menurut laporan lain, pejabat dari Rusia juga memberikan pandangannya mengenai dampak strategis dari kemampuan Iran di kawasan tersebut.
“Satu hal yang pasti, Iran telah menguji senjata nuklirnya. Itu disebut Selat Hormuz. Potensinya tak terbatas,” kata Dmitry Medvedev, wakil kepala Dewan Keamanan Rusia.
Di sisi lain, media Israel The Jerusalem Post, melaporkan bahwa video yang dibagikan oleh Mousavi belum dapat diverifikasi keasliannya, dan diduga telah melalui proses penyuntingan.
Baca Juga : Kapal Perang Iran Diserang, Negosiasi Batal?
Meski demikian, hingga kini pemerintah AS maupun Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk menanggapi klaim tersebut.
Media Israel juga melaporkan adanya temuan peluncur rudal yang diarahkan ke Israel pada Sabtu (18/4/2026). Sistem peluncur tersebut disebut siap digunakan apabila gencatan senjata antara Israel dan Lebanon gagal dicapai.
Ancaman yang berkembang dari Iran juga disebut mendorong Presiden Donald Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel, agar segera mencapai kesepakatan dengan Lebanon. Pada Jumat (17/4/2026), Trump bahkan mengumumkan larangan bagi Israel untuk melanjutkan serangan udara ke Lebanon.

[…] Jelang Gencatan Berakhir, Iran Klaim Stok Rudalnya Melebihi Sebelum Perang […]