Raja Salman Murka, Jet Tempur Arab Bom Yaman
Ketegangan di Yaman kembali meningkat, setelah koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan lebih dari 15 serangan udara ke Al-Dhale yang merupakan provinsi asal Aidaros Alzubidi pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat.
Serangan yang melibatkan belasan jet tempur tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya empat warga sipil dan menyebabkan enam orang lainnya mengalami luka-luka.
Seorang pejabat lokal Yaman mengungkapkan bahwa bombardir udara itu menyasar sejumlah rumah tokoh yang diketahui loyal kepada Aidaros Alzubidi, pemimpin separatis selatan sekaligus Ketua Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC). Karena sensitivitas situasi politik dan keamanan, pejabat tersebut meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Baca Juga : Arab Saudi Buka Pasar Modal, Mulai 1 Februari 2026
Dari sisi medis, dua sumber di Rumah Sakit Al-Nasr dan Al-Tadamon di al-Dhale mengkonfirmasi adanya korban jiwa akibat serangan tersebut. Mereka mencatat setidaknya empat warga sipil meninggal dunia, sementara enam lainnya dilarikan ke rumah sakit dengan berbagai luka akibat pemboman.
Eskalasi ini terjadi setelah Aidaros Alzubidi tidak menghadiri agenda pembicaraan damai yang dijadwalkan berlangsung di Riyadh. Sebelumnya, koalisi pimpinan Saudi menyebut operasi militer yang dilakukan bersifat terbatas dan menuding Alzubidi telah meninggalkan lokasi dan melarikan diri ke tempat yang tidak diketahui.
Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh Dewan Transisi Selatan. Dalam pernyataan resminya, STC mengecam serangan udara yang dinilai tidak memiliki dasar yang jelas dan mendesak Arab Saudi untuk segera menghentikan pemboman. STC juga menegaskan bahwa Aidaros Alzubidi tetap menjalankan tugas dan aktivitas politiknya dari Aden, ibu kota wilayah selatan Yaman.
Sementara itu, juru bicara STC, Anwar Al-Tamimi, mengungkapkan bahwa pihaknya kehilangan kontak dengan delegasi separatis yang sebelumnya berangkat ke Riyadh untuk mengikuti pembicaraan. Ia menyatakan kekhawatiran atas keselamatan delegasi tersebut dan meminta otoritas Saudi bertanggung jawab menjamin keamanan mereka.
Perkembangan terbaru ini semakin memperkeruh situasi di Yaman, di saat berbagai pihak tengah berupaya membuka ruang dialog untuk meredakan konflik berkepanjangan yang telah melanda negara tersebut selama bertahun-tahun.
Baca Juga : Prabowo Umumkan Swasembada Pangan 2025 Berhasil Tercapai
