Selain BUMN, Danantara Juga Lirik Saham Perusahaan Swasta
Indeks pasar saham Indonesia beberapa waktu terakhir diwarnai berbagai dinamika global, termasuk perubahan kebijakan lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI.
Di tengah situasi tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menegaskan arah strateginya di pasar modal.
Tak Hanya Saham BUMN, Fokus pada Fundamental Kuat
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pihaknya tidak membatasi investasi hanya pada saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ia menegaskan, semua saham berpeluang dipertimbangkan selama memiliki kinerja dasar perusahaan yang baik dan likuiditas yang cukup.
“Semua saham kami lihat. Kami tidak memilih-milih sektor. Yang kami perhatikan adalah fundamentalnya. Bukan berarti hanya saham BUMN, saham perusahaan swasta juga banyak yang bagus dan perlu dilihat,” terang Pandu saat ditemui di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Apa itu Program Prabowo “Gentengisasi”? Ubah Atap Seng Jadi Genteng
Menurut dia, Danantara berperan sebagai investor aktif, baik di pasar domestik maupun global.
Dalam menjalankan strategi tersebut, transparansi dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar menjadi hal yang penting.
“Kalau kita tidak berubah, nanti akan dipaksa berubah. Apa yang dilakukan MSCI itu seperti cold plunge, tidak nyaman, tapi perlu. Kita harus paham dampaknya jika tidak berkomunikasi dan menyesuaikan diri dengan pasar,” lanjutnya.
Pandu pun menilai bahwa pembenahan pasar modal Indonesia merupakan tanggung jawab bersama antara pelaku pasar, regulator, dan pemerintah.
Ia mencontohkan negara seperti India dan Hong Kong yang dinilai berhasil membangun sistem pasar modal yang kuat.
Salah satu indikator yang disoroti adalah rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB), yang saat ini berada di kisaran 0,6 kali.
Menurut Pandu, jika rasio tersebut bisa meningkat menjadi 1,5 hingga 2 kali, maka nilai pasar modal Indonesia berpotensi tumbuh lebih besar.
Terkait struktur kepemilikan bursa, ia memperkirakan model Indonesia ke depan akan menyerupai Hong Kong, dengan pemisahan yang tegas antara regulator dan pemegang saham serta penerapan prinsip demutualisasi.
“Kami akan belajar dan meniru praktik terbaik yang ada, dan itu dilakukan dengan penuh kebanggaan,” pungkas dia.
Baca Juga: Rp 20T Dikucurkan Danantara untuk Proyek Hilirisasi Peternakan Ayam
