Selat Hormuz Ditutup Iran, RI Harus Siap Hadapi Dampaknya
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz diperkirakan membawa dampak besar terhadap perekonomian global maupun domestik. Kebijakan itu diambil setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel beberapa hari terakhir.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi menembus level 100 dollar AS hingga 120 dollar AS per barel. Dalam sebulan terakhir saja, harga minyak telah melonjak sekitar 13,4 persen dan tren kenaikan diperkirakan masih berlanjut.
“Selat Hormuz yang terganggu akan mempengaruhi 20% pasokan minyak dunia,” ujar Bhima kepada CNBC Indonesia, Senin (2/3/2026).
Baca Juga: DPR Sebut Perlu Perhitungan Cermat soal Prabowo Mau Mediasi AS-Iran
Menurut dia, risiko keamanan di kawasan konflik turut memperparah situasi, termasuk adanya penolakan pengajuan asuransi bagi kapal-kapal logistik yang melintasi wilayah tersebut. Kondisi ini dinilai dapat menghambat distribusi energi global dan mempersulit proses impor minyak bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Sebagai negara net importir minyak, Indonesia disebut akan menghadapi konsekuensi fiskal yang tidak ringan. Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barel di atas asumsi APBN berpotensi menambah beban belanja negara sekitar Rp 10,3 triliun.
Jika harga minyak benar-benar menembus kisaran 100 dollar AS hingga 120 dollar AS per barel, belanja negara diperkirakan bisa membengkak hingga Rp 515 triliun pada 2026. Kenaikan tersebut bukan hanya berdampak pada subsidi BBM, tetapi juga kompensasi kepada Pertamina dan subsidi listrik.
“Ada beban ganda langsung ke APBN. Kondisi diperburuk oleh kekhawatiran flight to quality dari investor menyebabkan pelemahan rupiah,” kata Bhima.
Ia juga mengingatkan sektor pangan sangat rentan terdampak, terutama komoditas yang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan gangguan rantai impor seperti kedelai, gandum, dan daging. Tekanan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga minyak dan pangan impor dikhawatirkan menciptakan tekanan beruntun terhadap daya beli masyarakat.
“Masyarakat jelas tidak siap harga BBM dan inflasi volatile food naik berlebihan. Jika konflik berlanjut dan meluas bahkan banyak negara berkembang jatuh pada krisis ekonomi,” ujar dia.
Baca Juga: Trump Janji Siapkan Serangan saat Iran Balas Dendam
Dampak Global dan Ancaman Krisis Energi
Pandangan serupa disampaikan praktisi minyak dan gas bumi Hadi Ismoyo. Ia menilai konflik terbaru di Timur Tengah jauh lebih serius dibanding ketegangan sebelumnya, terutama setelah gugurnya Khamenei dan langkah penutupan Selat Hormuz.
“Artinya 20% pasokan minyak dunia akan hilang, dan pasokan 30% LNG dunia akan hilang dari pasar. Harga komoditas minyak dan LNG akan naik dengan signifikan,” terang Hadi.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memicu gejolak berkepanjangan di pasar energi global.
Ia menilai figur Khamenei bukan hanya pemimpin tertinggi negara yang menentukan kebijakan strategis, tetapi juga pemimpin ulama Syiah yang memiliki pengaruh besar di kalangan pengikutnya.
“Dan ini akan membangkitkan dendam bersayap seperti wafatnya Imam Husein di Padang Karbala dengan cara US dan Israel membunuhnya dengan cara kejam,” imbuhnya.

[…] Selat Hormuz Ditutup Iran, RI Harus Siap Hadapi Dampaknya […]