Taliban Tawarkan Investasi Mineral Afghanistan Rp17.732 Triliun
Pemerintah Taliban di Afghanistan mulai berupaya mendekati Amerika Serikat (AS) dengan menawarkan peluang investasi di sejumlah sektor strategis. Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi mengundang perusahaan-perusahaan AS untuk menanamkan modal di bidang pertambangan, infrastruktur, hingga pertanian.
Potensi kerja sama tersebut menjadi sorotan karena Afghanistan diperkirakan memiliki cadangan mineral yang belum dimanfaatkan dengan nilai mencapai US$1 triliun atau sekitar Rp17.732 triliun.
Seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (1/9/2026), informasi tersebut disampaikan dalam wawancara Muttaqi dengan Financial Times yang dipublikasikan pada Senin (31/8) waktu setempat.
Baca Juga : Menkeu AS Desak Jepang Naikkan Suku Bunga, Perkuat Yen?
Dalam wawancara tersebut, Muttaqi mendorong agar hubungan AS dan Afghanistan tidak lagi hanya dilihat dari pengalaman konflik selama dua dekade terakhir.
“Melainkan atas dasar kerja sama di masa depan,” cetus Menlu Taliban tersebut.
Muttaqi juga menegaskan bahwa Afghanistan “tentu saja” akan menyambut baik masuknya investasi dari perusahaan-perusahaan AS.
Afghanistan Punya Kekayaan Mineral Bernilai Triliunan
Potensi investasi tersebut tidak lepas dari kekayaan sumber daya alam Afghanistan. Penilaian Pentagon atau Departemen Pertahanan AS terhadap data Survei Geologi AS (USGS) pada 2009 memperkirakan Afghanistan memiliki sumber daya mineral yang belum digarap dengan nilai setidaknya US$1 triliun.
Sejak kembali berkuasa pada 2021, Taliban telah menandatangani kontrak pertambangan dengan nilai lebih dari US$7 miliar. Sebagian besar kesepakatan tersebut melibatkan perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan China, Iran, serta negara lain yang bersedia menjalin hubungan dengan pemerintahan Taliban.
Afghanistan diketahui memiliki berbagai komoditas mineral strategis, mulai dari tembaga, bijih besi, litium, logam tanah jarang, kobalt, kromit, emas, niobium, hingga batu permata.
Sejumlah mineral tersebut juga memiliki nilai strategis bagi AS. Litium, tembaga, kobalt, dan logam tanah jarang tercantum dalam Daftar Mineral Kritis AS 2025. Komoditas tersebut banyak digunakan untuk baterai kendaraan listrik, teknologi pertahanan, serta pengembangan teknologi yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap China.
Kondisi Afghanistan Masih Jadi Tantangan
Meski memiliki kekayaan mineral yang besar, Afghanistan masih menghadapi persoalan ekonomi dan kemanusiaan yang serius setelah lima tahun berada di bawah pemerintahan Taliban.
Afghanistan tetap termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Sekitar sepertiga penduduknya menghadapi kelaparan akut, sementara hak-hak perempuan masih mengalami pembatasan yang ketat.
Baca Juga : Iran Serang Negara Teluk, Trump Sebut Bawa Untung?
Para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya memperingatkan agar tidak ada langkah yang dapat dianggap sebagai upaya menormalisasi otoritas de facto Taliban. Mereka menekankan perlunya kemajuan yang nyata dan terukur dalam pemenuhan hak asasi manusia, terutama hak perempuan dan anak perempuan.
Peringatan tersebut mencakup aktivitas seperti menerima diplomat Taliban maupun menggelar pertemuan di Kabul tanpa adanya kemajuan terkait standar hak asasi manusia.
Hingga kini, AS belum mengambil langkah untuk mempererat hubungan dengan pemerintahan Taliban.
Namun, Muttaqi mengungkapkan bahwa dirinya telah mendorong Gedung Putih untuk membuka kembali Kedutaan Besar AS di Kabul yang ditinggalkan pada 2021.
Menurut Muttaqi, Taliban telah menjamin keamanan kawasan tersebut dan melakukan sejumlah perbaikan.
“Kawasan itu tampak sangat hidup dan menarik,” sebutnya.
