Trump Klaim MoU Iran Selamatkan Ekonomi Global dari Krisis
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memuji keberhasilan nota kesepahaman (MoU) damai dengan Iran yang diteken pekan lalu. Menurutnya, kesepakatan tersebut menjadi faktor penting yang membantu meredakan gejolak ekonomi global setelah konflik yang sempat mengguncang pasar energi internasional.
Dalam pernyataannya di Istana Versailles, Trump meminta para pengkritik untuk melihat respons positif pasar keuangan sebagai bukti keberhasilan diplomasi yang dijalankannya.
Trump mengklaim bahwa langkah diplomatik tersebut berhasil mengakhiri ketidakpastian ekonomi yang muncul setelah keputusan Washington melakukan serangan terhadap Iran pada Februari lalu.
“Tidak ada yang secerdas pasar modal, dan pasar sangat menyukainya,” ujar Trump saat menyoroti pemulihan sentimen positif di bursa saham global.
Meski demikian, optimisme tersebut mulai mendapat ujian setelah rencana pembicaraan damai lanjutan di Swiss sempat dibatalkan sebelum akhirnya kembali dilanjutkan. Situasi juga memanas setelah Iran menyinggung kemungkinan penutupan kembali Selat Hormuz menyusul meningkatnya ketegangan regional.
Perundingan Swiss Hasilkan Kemajuan
Pertemuan yang akhirnya berlangsung di kawasan Danau Lucerne, Swiss, menghasilkan sejumlah perkembangan positif meski sempat diwarnai aksi walk out dari delegasi Iran.
Mediator dari Pakistan dan Qatar menyebut perundingan berlangsung dalam suasana yang konstruktif dan menghasilkan kemajuan yang menggembirakan.
Baca Juga : Teheran Respon Ancaman Trump, Iran Siap Balas!
Dalam pertemuan tersebut, para pihak menyepakati peta jalan selama 60 hari menuju kesepakatan final. Mereka juga menyetujui pembukaan jalur komunikasi guna mencegah insiden di Selat Hormuz serta melanjutkan pembicaraan teknis terkait berbagai isu strategis.
Selain itu, dibentuk pula sel dekonflik Lebanon untuk membantu memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer sebagaimana diatur dalam nota kesepahaman.
Kedua negara juga sepakat membentuk Komite Tingkat Tinggi yang akan mengawasi implementasi proses perdamaian. Komite tersebut akan menerima laporan berkala dari para negosiator dan mengoordinasikan sejumlah kelompok kerja yang membahas isu nuklir, sanksi, pemantauan implementasi, hingga mekanisme penyelesaian sengketa.
Selat Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Energi
Harapan pasar kini tertuju pada kemungkinan normalisasi penuh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dalam beberapa pekan mendatang.
Jalur laut tersebut memiliki peran sangat strategis karena menjadi rute pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Apabila akses pelayaran kembali berjalan normal, risiko gangguan pasokan energi global dapat ditekan, termasuk potensi kelangkaan bahan bakar jet dan berbagai komoditas energi lainnya.
Respons pasar energi terlihat cukup positif. Harga minyak mentah Brent sempat turun di bawah US$80 per barel setelah muncul optimisme terkait pemulihan pasokan. Namun, harga kembali mengalami tekanan setelah Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran.
Dampak Ekonomi Berbeda di Berbagai Kawasan
Konflik yang terjadi memberikan dampak ekonomi yang berbeda-beda di berbagai negara.
Negara-negara Teluk menjadi kawasan yang paling terdampak karena terganggunya aktivitas ekspor energi serta meningkatnya risiko keamanan regional.
Oxford Economics memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kawasan Teluk akan mengalami kontraksi hingga minus 2,6% pada tahun ini akibat tekanan ekonomi yang muncul dari konflik tersebut.
Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan yang relatif kuat berkat investasi besar di sektor kecerdasan buatan (AI) serta berbagai proyek teknologi berskala besar.
Meski demikian, konsumen AS tetap menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi. Harga bensin tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sehingga mendorong inflasi nasional mencapai 4,2%.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang kini menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
Inflasi dan Suku Bunga Jadi Perhatian
Sejumlah ekonom memperkirakan The Fed berpotensi mengambil langkah pengetatan moneter lebih lanjut apabila tekanan inflasi terus meningkat.
Kepala Riset Global TS Lombard, Dario Perkins, menilai suku bunga acuan dapat naik hingga kisaran 4,5% sampai 5% pada akhir tahun depan jika inflasi tetap bertahan di level tinggi.
Menurutnya, ketahanan ekonomi Amerika Serikat sejauh ini masih ditopang oleh belanja konsumen yang tetap kuat meskipun daya beli mulai tergerus.
Di Eropa, kondisi tidak jauh berbeda. Bank Sentral Eropa (ECB) bahkan telah menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 guna mengendalikan lonjakan inflasi yang dipicu tingginya ketergantungan terhadap impor energi.
Sementara itu, Inggris mencatat inflasi sebesar 2,8% pada April, meskipun indikator kepercayaan bisnis dan pasar tenaga kerja menunjukkan tren pelemahan.
Risiko Jangka Panjang Masih Membayangi
Meski terdapat kemajuan dalam proses diplomasi, banyak ekonom menilai nota kesepahaman AS-Iran belum cukup untuk menghapus dampak ekonomi yang telah ditimbulkan konflik.
Kepala Ekonom Global Oxford Economics, Ryan Sweet, mengatakan dampak perang terhadap perekonomian biasanya berlangsung lebih lama dibandingkan konflik militernya sendiri.
Menurutnya, dunia masih akan merasakan konsekuensi ekonomi dari konflik tersebut hingga tahun depan.
Selain itu, rincian implementasi pembukaan Selat Hormuz masih menyisakan sejumlah ketidakpastian, termasuk potensi pembatasan lalu lintas kapal atau kebijakan tarif tertentu yang dapat memengaruhi perdagangan global.
Di sisi lain, sejumlah politisi Amerika Serikat, termasuk dari Partai Republik, mulai mempertanyakan ketahanan MoU tersebut karena dianggap masih rentan terhadap gangguan geopolitik.
Serangan Israel ke Lebanon maupun potensi ketegangan baru terkait program nuklir Iran dinilai dapat menjadi pemicu kegagalan diplomasi yang sedang berlangsung.
Pasar Dinilai Terlalu Optimistis
Beberapa analis menilai pasar keuangan bergerak terlalu cepat dalam merespons kesepakatan sementara tersebut.
Baca Juga : AS-Iran Sepakati Tiga Langkah Awal untuk Akhiri Konflik
Kepala Ekonom Global Capital Economics, Neil Shearing, mengatakan harga minyak Brent yang kembali bergerak ke kisaran US$80 per barel mencerminkan ekspektasi yang terlalu optimistis terhadap proses negosiasi.
Menurutnya, masih banyak tahapan yang harus diselesaikan sebelum tercapai kesepakatan permanen yang mampu menjamin stabilitas kawasan dan kelancaran pasokan energi global.
Pandangan serupa disampaikan sejumlah pakar geopolitik yang mengingatkan bahwa MoU AS-Iran bukanlah jaminan perdamaian jangka panjang.
BCA Research bahkan memperkirakan peluang munculnya kembali konflik setelah pemilu sela Amerika Serikat masih cukup tinggi.
Meski kesepakatan berhasil dipertahankan, pasar energi global diperkirakan membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar pulih akibat kerusakan infrastruktur dan terganggunya rantai pasok selama konflik berlangsung.
Para ekonom menilai perang tersebut telah menjadi pengingat bahwa ketergantungan dunia terhadap jalur distribusi energi strategis masih menjadi salah satu titik paling rentan dalam perekonomian global modern.

[…] Baca Juga : Trump Sebut MoU Iran Selamatkan Dunia dari Krisis Ekonomi Global […]