Iran Klaim Kendali Selat Hormuz Usai Damai dengan AS
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz ke depan akan berada di bawah pengelolaan langsung Republik Islam Iran. Pernyataan tersebut disampaikan setelah ia kembali dari perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Swiss.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional,” kata Ghalibaf, seperti dikutip kantor berita IRNA.
Pernyataan itu muncul setelah Iran dan AS mencapai kesepakatan untuk membuka jalur komunikasi guna menjaga keamanan dan keterbukaan salah satu rute pelayaran paling strategis di dunia. Kesepakatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengakhiri konflik yang terjadi di Lebanon.
Menurut para mediator, kesepakatan dicapai pada Senin (22/6/2026) setelah kedua negara menggelar putaran pertama perundingan damai di Swiss untuk menghentikan perang.
Baca Juga : Trump Sebut MoU Iran Selamatkan Dunia dari Krisis Ekonomi Global
Dalam video yang diunggah melalui akun Telegram pribadinya, Ghalibaf menilai perundingan yang berlangsung di kawasan resor Burgenstock menghasilkan sejumlah kemajuan penting.
“Menurut saya, perjalanan ini membawa pencapaian yang baik, terutama terkait pembahasan mengenai Selat (Hormuz), pembahasan soal Lebanon, persoalan pengecualian (sanksi) minyak, dan masalah pencairan dana yang dibekukan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses diplomatik tersebut masih berada pada tahap awal dan memerlukan tindak lanjut yang berkelanjutan.
“Tentu saja, kami yakin kami masih di awal pekerjaan ini dan harus melanjutkan upaya kami,” kata Ghalibaf.
AS Longgarkan Sanksi terhadap Iran
Sebagai bagian dari hasil perundingan, pemerintah AS untuk sementara mencabut sejumlah sanksi terhadap sektor minyak Iran pada Senin. Kebijakan itu muncul setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Teheran bersedia kembali menerima inspektur nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain pelonggaran sanksi minyak, Iran juga disebut akan memperoleh sejumlah keringanan ekonomi lainnya, termasuk pencairan aset-aset yang sebelumnya dibekukan oleh Washington.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa dalam perjalanan pulang dari Swiss, Ghalibaf sempat singgah di Oman. Negara tersebut memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan kawasan Selat Hormuz.
Jalur Pelayaran Tetap Beroperasi
Selat Hormuz sempat ditutup oleh Iran pada awal konflik sebelum akhirnya dibuka kembali pekan lalu setelah Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman.
Namun, pada Sabtu (20/6/2026), Iran kembali mengumumkan penutupan jalur tersebut sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon.
Untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, Iran dan AS kemudian sepakat membangun mekanisme komunikasi langsung guna menghindari insiden maupun kesalahpahaman di kawasan perairan tersebut. Kesepakatan itu bertujuan memastikan keamanan pelayaran bagi kapal-kapal niaga yang melintas.
Menurut mediator dari Qatar dan Pakistan, kedua negara berkomitmen menjaga stabilitas lalu lintas maritim di kawasan strategis tersebut.
Data dari perusahaan pemantau pelayaran menunjukkan aktivitas kapal di Selat Hormuz pada Senin tetap berlangsung normal. Bahkan, volume dan kecepatan lalu lintas maritim tercatat meningkat dibandingkan periode sebelum tercapainya kesepakatan untuk memulai perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Baca Juga : Dukungan Netanyahu Menurun, AS Dekati Oposisi Israel
Perkembangan ini dinilai menjadi sinyal positif bagi stabilitas perdagangan global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
