Trump Mulai Tinggalkan Netanyahu, Turki Jadi Sekutu Baru?
Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mulai menunjukkan tanda-tanda yang semakin jelas. Perbedaan kepentingan kedua pemimpin tersebut bahkan berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah.
Perbedaan itu terlihat setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah. Pangkalan tersebut dilaporkan baru saja dikunjungi delegasi militer Turki yang tengah membahas rehabilitasi fasilitas tersebut.
Serangan Israel langsung mendapat kecaman dari Turki. Ankara menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.
Baca Juga : Bahlil Dorong Harga SDA agar Tidak Diatur Negara Lain
“Untuk melegitimasi serangan udara ilegal Israel yang menargetkan kedaulatan dan integritas teritorial Suriah,” ujar Kementerian Luar Negeri Turki.
Yang menarik, Washington juga ikut mengkritik serangan tersebut. Utusan Khusus AS Tom Barrack menyebut operasi Israel sebagai:
“Sebuah eskalasi yang tidak perlu.”
Beda Arah Kebijakan Trump dan Netanyahu
Perbedaan sikap AS dan Israel tersebut dinilai mencerminkan semakin lebarnya jarak kepentingan antara Trump dan Netanyahu.
Mantan pejabat AS Brian Katulis menilai keduanya sama-sama menghadapi tekanan politik domestik, tetapi meresponsnya dengan strategi yang berbeda.
Netanyahu dinilai perlu menunjukkan kekuatan militer untuk mempertahankan citra sebagai pemimpin yang mampu melindungi Israel. Karena itu, pemerintahannya terus menjalankan operasi militer agresif di berbagai wilayah.
“Tujuan utama kebijakan dan politik Netanyahu berpusat pada penunjukan bahwa ia dapat melindungi warga Israel sekali lagi, oleh karena itu ia terus melakukan kampanye militer agresif di berbagai lini yang menarik bagi anggota koalisi sayap kanannya yang ekstrem,” tutur Katulis.
Sementara itu, Trump menghadapi masyarakat AS yang semakin lelah terhadap perang dan dampaknya terhadap ekonomi.
“Trump, sebaliknya, menghadapi publik Amerika yang lelah perang dan merasakan penderitaan ekonomi, sehingga Trump mencari deeskalasi, arah yang berlawanan dengan arah Netanyahu,” imbuhnya.
Trump juga diketahui semakin mendukung pendekatan Turki terhadap pemerintahan baru Suriah di bawah Presiden Ahmad al-Sharaa. Sikap tersebut berseberangan dengan Netanyahu yang masih menunjukkan kekhawatiran terhadap perkembangan politik di Damaskus.
Bahkan, Trump disebut mengabaikan keberatan Netanyahu ketika menyatakan rencana mencabut pembatasan penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Turki.
Munculnya Koalisi Saingan
Perubahan sikap Washington turut mendorong negara-negara kawasan untuk memperkuat jaringan pertahanan masing-masing.
Salah satu perkembangan yang paling menonjol adalah terbentuknya kerja sama pertahanan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, yang kemudian disebut sebagai “Pakta Mekkah”.
Kerja sama tersebut muncul ketika Iran masih mengerahkan jaringan sekutunya dalam konflik regional. Pada saat yang sama, Israel juga memperkuat hubungan dengan sejumlah negara, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), India, Yunani, dan Siprus.
Mantan perwira intelijen Turki Ali Burak Daricili menilai keterlibatan Ankara dalam Pakta Mekkah dapat menjadi strategi untuk mengimbangi pengaruh Israel.
“Penyelarasan strategis yang lebih erat antara Türkiye, Arab Saudi, dan Pakistan dapat membantu menyeimbangkan tindakan regional Israel yang semakin tidak terkendali,” ucap Daricili.
“Blok strategis Sunni semacam itu dapat membatasi kemampuan Iran untuk membangun kembali pengaruhnya di Timur Tengah,” tambahnya.
Namun, persaingan Turki-Israel dinilai berisiko karena kedua negara telah bersinggungan dalam sejumlah konflik regional, termasuk Suriah, Sudan, dan Somalia.
Menariknya, Trump justru memberikan dukungan terhadap terbentuknya kerja sama tersebut.
“Bagaimana Timur Tengah bersatu dan bagaimana negara-negara akhirnya dapat membela diri dengan cara yang lebih bermakna,” puji Trump.
Menurut Daricili, dukungan tersebut menunjukkan keinginan Washington untuk membentuk tatanan keamanan baru di Timur Tengah sekaligus mengurangi keterlibatan langsung AS agar dapat memusatkan perhatian pada China dan kawasan Asia-Pasifik.
Namun, perang yang berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi menghambat strategi tersebut karena menguras persediaan amunisi AS dan membuat sejumlah aset militernya tetap tertahan di kawasan.
Membatasi Agresi Israel
Potensi bentrokan langsung antara Israel dan Turki menjadi salah satu skenario yang ingin dihindari Washington.
Baca Juga : Turkiye Murka Israel Gempur Pangkalan Suriah
Wakil Rektor Universitas Tel Aviv Eyal Zisser menilai pendekatan pemerintahan Netanyahu yang agresif dapat meningkatkan risiko eskalasi.
“Pemerintah ini percaya bahwa hal terbaik yang harus dilakukan adalah selalu memukul tetanggamu,” kata Zisser.
Ketegangan Israel-Turki juga semakin terlihat dari pernyataan sejumlah pejabat Israel yang menyerang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Salah satunya datang dari Konsul Jenderal Israel Ofir Akunis yang mengkritik Erdogan terkait dukungannya terhadap armada aktivis yang berupaya menembus blokade Gaza.
Meski demikian, Zisser menilai perang terbuka antara Israel dan Turki belum menjadi skenario yang paling mungkin dalam waktu dekat. Pengaruh Washington terhadap Israel masih dianggap cukup kuat untuk membatasi eskalasi.
