Trump Tak Puas Isi Tawaran Proposal Iran, Perang Bisa Berlanjut
Peluang berakhirnya perang dalam waktu dekat semakin mengecil, setelah proposal terbaru dari Iran untuk menghentikan konflik tidak mendapat tanggapan positif dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Penolakan tersebut dinilai memperkecil kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Di sisi lain, dampak konflik masih terus terasa secara global, mulai dari gangguan pasokan energi, lonjakan inflasi, hingga meningkatnya jumlah korban jiwa.
Dilansir Reuters, Selasa (28/4/2026), seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump menilai isi proposal Iran belum menyentuh isu-isu utama yang sejak awal menjadi fokus pembicaraan.
Baca Juga : Pengelolaan Utang Danantara Dipertanyakan IMF dan World Bank!
Dalam proposal tersebut, Iran mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklir ditunda hingga perang benar-benar berakhir dan persoalan jalur pelayaran di kawasan Teluk, termasuk Selat Hormuz, diselesaikan terlebih dahulu. Pendekatan tersebut dianggap tidak sejalan dengan posisi pemerintah AS.
Seorang pejabat yang mengetahui jalannya rapat antara Trump dan para penasihatnya pada Senin waktu setempat, menyebut bahwa presiden menolak skema tersebut karena Washington menginginkan isu nuklir menjadi topik utama sejak tahap awal negosiasi.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan membahas proses negosiasi melalui media.
“Kami tidak akan bernegosiasi melalui pers,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa AS “telah jelas mengenai garis merah kami” dalam upaya mengakhiri perang melawan Iran yang dimulai sejak Februari bersama Israel.
Isu nuklir memang menjadi persoalan penting dalam hubungan kedua negara. Kesepakatan nuklir tahun 2015 antara Iran dan sejumlah negara, termasuk AS, sempat membatasi aktivitas nuklir Teheran yang disebut untuk tujuan damai sipil.
Namun kesepakatan tersebut runtuh, setelah Trump menarik AS secara sepihak pada masa jabatan pertamanya. Kini, perbedaan pendekatan terkait isu nuklir kembali menjadi hambatan utama dalam proses diplomasi.
Diplomasi Mandek, Kunjungan Utusan Dibatalkan
Harapan untuk melanjutkan dialog damai juga melemah setelah Trump membatalkan rencana kunjungan utusan khususnya, Steve Witkoff, bersama menantunya Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan lalu.
Pakistan sebelumnya menjadi lokasi penting dalam upaya membuka kembali jalur komunikasi antara kedua negara. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, diketahui beberapa kali melakukan perjalanan ke ibu kota tersebut dalam rangka mendorong kelanjutan dialog.
Selain Pakistan, Araghchi juga melakukan kunjungan diplomatik ke Oman dan Rusia. Saat berada di Moskow, ia bertemu Presiden Vladimir Putin yang menyatakan dukungan terhadap Iran sebagai sekutu lamanya.
Dalam pernyataannya di Rusia, Araghchi menilai bahwa justru Washington yang menginginkan negosiasi karena belum mencapai tujuan yang diharapkan dalam konflik tersebut.
Pasar Energi Terguncang Akibat Gangguan Distribusi
Di tengah kebuntuan diplomasi, pasar energi global kembali mengalami tekanan. Harga minyak dilaporkan melanjutkan kenaikan pada awal perdagangan di kawasan Asia, mencerminkan kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi dunia.
Analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menyebut bahwa perhatian pelaku pasar kini lebih tertuju pada kondisi distribusi fisik minyak dibanding pernyataan politik.
“Bagi para trader minyak, yang penting bukan lagi retorika, tetapi aliran fisik minyak mentah melalui Selat Hormuz, dan saat ini aliran itu masih terhambat,” ujarnya.
Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya enam kapal tanker yang membawa minyak Iran terpaksa kembali ke pelabuhan asal akibat blokade yang dilakukan oleh AS dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menegaskan dampak langsung konflik terhadap rantai distribusi energi global.
Baca Juga : Strategi Prabowo Hadapi Perang, Demi Energi RI Aman!
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam langkah tersebut dan menyebut penyitaan kapal oleh AS sebagai “legalisasi terang-terangan dari pembajakan dan perampokan bersenjata di laut lepas”.
Sebelum konflik pecah, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun kini, jumlah kapal yang melintas turun drastis menjadi hanya tujuh kapal dalam sehari terakhir, dan tidak satu pun membawa minyak untuk pasar global.
Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan politik seiring menurunnya tingkat dukungan publik terhadap kebijakan pemerintahannya, termasuk terkait perang yang alasan resminya dinilai terus berubah.
