Usai Serangan Trump ke Venezuela, CSIS Peringatkan Ancaman Outflow Besar di Pasar RI
Pasar keuangan Indonesia menghadapi ancaman hengkangnya dana asing (capital outflow) secara besar-besaran pada tahun 2026. Tekanan tersebut dipicu oleh ketidakpastian ekonomi dunia yang diperkirakan membuat pasar keuangan menjadi volatil, yang pada akhirnya berisiko melemahkan nilai tukar rupiah serta meningkatkan beban biaya utang (cost of borrowing) Surat Berharga Negara (SBN).
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, dalam pemaparannya pada Rabu (7/1/2026) mengungkapkan kekhawatiran akan terulangnya fenomena sudden capital outflow seperti tahun sebelumnya, baik di pasar obligasi maupun pasar saham.
“Nah, yang dikhawatirkan adalah seperti yang terjadi di tahun kemarin kita mengalami sudden capital outflow yang besar. Baik itu di pasar bond market ataupun di stock market dan itu berimplikasi pada nilai tukar rupiah yang nantinya berimplikasi pada cost of borrowing dari SBN kita,” kata Deni dikutip pada Kamis (8/1/2026).
Kondisi ekonomi global diprediksi akan mengalami perlambatan (slowdown) karena melemahnya mesin pertumbuhan utama dunia, yakni China dan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Beban Fiskal Membengkak, RI Hadapi Jatuh Tempo Utang Rp800 Triliun di 2026 – Economix
China saat ini tengah menghadapi kondisi deflasi, di mana pertumbuhan ekonominya diperkirakan hanya berada di angka 2%, jauh di bawah angka resmi 5%. Sementara itu, Amerika Serikat menghadapi tekanan inflasi serta beban utang publik dan defisit anggaran yang besar.
Kondisi ini diperparah oleh eskalasi konflik geopolitik terbaru setelah Amerika Serikat melakukan serangan di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, yang dinilai meningkatkan risiko instabilitas ekonomi dunia.
Deni menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 akan sangat suram (gloomy) akibat banyaknya katalis negatif. Selain ketegangan geopolitik, faktor lain yang membayangi meliputi kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump, larangan ekspor rare earth oleh China, larangan ekspor chip maker di Eropa, serta tekanan fiskal yang dihadapi Inggris dan Jerman.
Ketidakpastian ini tercermin dalam proyeksi lembaga internasional. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 hanya sebesar 3,1%.
Namun, proyeksi dari Bank Dunia dan OECD jauh lebih rendah, masing-masing memperkirakan pertumbuhan dunia berada di angka 2,4% dan 2,9%. Seluruh variabel tersebut diyakini akan memperkuat sentimen negatif terhadap prospek ekonomi global di masa mendatang.
“Jadi, semua itu berimplikasi bahwa perekonomian dunia, pertumbuhan di tahun 2026 akan sangat gloomy, akan lebih slowdown,” kata Deni.
Baca Juga: AS Bakal Keok! Elon Musk Prediksi China Kuasai AI Dunia Lewat Kekuatan Listrik di 2026 – Economix

[…] Usai Serangan Trump ke Venezuela, CSIS Peringatkan Ancaman Outflow Besar di Pasar RI […]