Beban Fiskal Membengkak, RI Hadapi Jatuh Tempo Utang Rp800 Triliun di 2026
Pemerintah diingatkan untuk waspada terhadap potensi membengkaknya utang negara akibat defisit APBN yang diperkirakan mendekati ambang batas 3% pada 2025.
Kondisi ini diperberat dengan adanya utang jatuh tempo yang diperkirakan mencapai kisaran Rp800 triliun pada tahun depan, yang dinilai akan menjadi faktor penekan fiskal yang signifikan.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, menjelaskan dalam pengarahan media pada Rabu (7/1/2026) bahwa proyeksi defisit sebesar 2,78% pada 2025 secara otomatis akan meningkatkan jumlah utang.
Berdasarkan data pemerintah, outlook defisit terhadap PDB pada 2025 tersebut membutuhkan pembiayaan anggaran atau utang senilai Rp662 triliun.
“Jadi, diperkirakan bahwa yang ditakutkan adalah defisit misalnya seperti yang pemerintah sampaikan atau prediksi pada Juli, dia mencapai 2,78%. Tapi itu artinya adalah utang kita akan meningkat,” kata Deni Friawan dikutip pada kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Prabowo Bawa Misi Penting di Forum Ekonomi Dunia, Apa Itu? – Economix
Situasi diprediksi semakin menantang pada 2026, di mana target defisit APBN ditetapkan sebesar 2,68% menurut UU APBN 2026. Target ini memerlukan pembiayaan anggaran sebesar Rp689,15 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar Rp27,15 triliun dibandingkan outlook 2025.
Meskipun kenaikan target defisit dan kebutuhan pembiayaan ini telah disepakati oleh pemerintah dan DPR pada September 2025, rincian komposisi pembiayaannya belum dipublikasikan seiring dengan keterlambatan penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang biasanya dilakukan setiap Desember.
Deni menyoroti bahwa beban fiskal akan semakin besar karena utang yang jatuh tempo pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya berada dalam jumlah yang sangat besar, yakni sekitar Rp700-800 triliun, yang harus melalui mekanisme roll over.
“Karena di saat yang bersamaan, di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya bahwa akan ada utang yang jatuh tempo itu sangat besar, sekitar Rp 700-800 triliun. Dan itu harus di roll over,” ungkapnya.
Baca Juga: Malaysia Minta Ekspor Beras, Indonesia Utamakan Stok Nasional – Economix
Berdasarkan catatan per 2025, profil utang jatuh tempo pemerintah mengalami kenaikan menjadi Rp833,96 triliun, meningkat dari data April 2024 yang sebelumnya tercatat sebesar Rp803,19 triliun.
Kondisi fiskal dalam negeri ini diperparah oleh dinamika global yang tidak menentu. Variabel ketidakpastian tersebut dinilai meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi dunia, yang secara langsung berdampak pada tantangan pengelolaan ekonomi nasional ke depan.

[…] Beban Fiskal Membengkak, RI Hadapi Jatuh Tempo Utang Rp800 Triliun di 2026 […]
[…] Beban Fiskal Membengkak, RI Hadapi Jatuh Tempo Utang Rp800 Triliun di 2026 […]
[…] Baca Juga : RI Hadapi Jatuh Tempo Utang Rp 800 Triliun di 2026 […]
[…] Baca Juga: RI Hadapi Jatuh Tempo Utang Rp 800 Triliun di 2026, Beban Fiskal Membengkak […]