Wisatawan Asing Bertambah, PHRI Bali Sebut Pasar Akomodasi Kian Padat
Peningkatan jumlah wisatawan asing ke Bali belakangan ini memunculkan tanda tanya di kalangan pelaku industri perhotelan. Isu yang kerap mengemuka adalah dugaan menjamurnya villa dan homestay ilegal yang disebut menjadi pilihan utama wisatawan mancanegara dengan anggaran terbatas.
Namun, pelaku usaha menilai fenomena tersebut tidak dapat disimpulkan secara sederhana.
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menjelaskan bahwa lonjakan kunjungan wisatawan asing berlangsung seiring dengan bertambahnya pasokan akomodasi di Bali.
Ia menuturkan, pertumbuhan jumlah hotel dan berbagai jenis hunian wisata membuat pasar akomodasi kini jauh lebih padat dibandingkan beberapa tahun lalu.
Menurutnya, kenaikan kunjungan sekitar 11% berjalan paralel dengan peningkatan suplai, baik hotel, vila, apartemen, kondotel, pondok wisata, maupun guesthouse, yang jumlahnya juga mengalami peningkatan.
Baca Juga: Akhir Dinasti Bank Prince, Jejak Skandal Penipuan Global – Economix
“Jadi peningkatan kunjungan paralel dengan peningkatan daripada supply kita kan. Itu penyebabnya,” kata Rai dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (9/1/2026).
Selain faktor pasokan, Rai menyoroti perubahan karakter wisatawan asing yang datang ke Bali. Ia menyebut, mayoritas wisatawan mancanegara saat ini berasal dari segmen menengah ke bawah, bukan kelompok dengan daya beli tinggi.
Kelompok wisatawan tersebut sangat sensitif terhadap harga sehingga cenderung memilih penginapan yang sesuai dengan kemampuan finansialnya. Akibatnya, banyak wisatawan asing lebih memilih menginap di villa, guesthouse, atau apartemen, sementara hanya sebagian yang memilih hotel berbintang.
Di sisi lain, Rai mengakui adanya persoalan terkait kepemilikan dan pengelolaan akomodasi. Ia menyatakan terdapat indikasi praktik ilegal yang dilakukan oleh oknum asing, khususnya dalam pengelolaan vila dan guesthouse yang tidak tercatat secara resmi.
Ia menjelaskan, terdapat skema di mana orang asing menyewa akomodasi, seperti guesthouse, lalu menyewakannya kembali kepada tamu melalui platform pemesanan daring.
Dalam praktik tersebut, proses pemesanan dan pembayaran dilakukan melalui rekening bank di luar negeri, sehingga transaksi tidak tercatat di dalam negeri dan tidak dikenakan pajak.
Baca Juga: Usai Serangan Trump ke Venezuela, CSIS Peringatkan Ancaman Outflow Besar di Pasar RI – Economix
Situasi tersebut diperkirakan akan membuat persaingan usaha akomodasi di Bali semakin ketat ke depan. Rai menilai, tahun 2026 akan menjadi periode yang penuh tantangan bagi pelaku industri pariwisata, baik dari sisi persaingan internal maupun eksternal.
Ia menegaskan bahwa tanpa perencanaan strategis yang tepat, pelaku usaha berpotensi kalah dalam persaingan.
“Yang jelas persaingan akan lebih ketat di tahun 2026 ini. Jadi tantangannya juga akan lebih keras. Jadi kalau kita tidak mempunyai strategic plan yang jitu ya, ya itu akan kalah dalam berkompetisi baik internal maupun eksternal nanti,” ungkapnya.
Rai juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa pascapandemi Covid-19. Pada periode tersebut, keinginan masyarakat untuk berwisata sangat tinggi setelah lama tertahan, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial, sehingga pengeluaran wisata cenderung besar.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut kini mulai berubah. Wisatawan saat ini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan mulai mempertimbangkan destinasi lain sebagai alternatif berwisata.
Baca Juga: Malaysia Minta Ekspor Beras, Indonesia Utamakan Stok Nasional – Economix

[…] Wisatawan Asing Bertambah, PHRI Bali Sebut Pasar Akomodasi Kian Padat […]