Usai Tewaskan 303 Orang, Netanyahu Dorong Israel Negosiasi dengan Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan telah menginstruksikan para menterinya untuk segera memulai negosiasi perdamaian langsung dengan Lebanon di tengah eskalasi konflik yang terus berlangsung.
Instruksi tersebut disampaikan sehari setelah serangan besar-besaran Israel di Lebanon yang menewaskan ratusan orang, yang oleh warga Beirut disebut sebagai “pembantaian Rabu kelam”.
“Mengingat permintaan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya menginstruksikan kabinet kemarin untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin,” papar Netanyahu.
“Negosiasi akan fokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon,” lanjut dia.
Baca Juga: Netanyahu Dianggap Gagal Capai Target Perang, usai Gencatan AS-Iran
Negosiasi dirancang, serangan tetap berlanjut
Netanyahu menyebut negosiasi akan dipimpin oleh duta besar Israel untuk Washington, Yechiel Leiter, sementara pihak Lebanon belum mengonfirmasi siapa yang akan memimpin delegasinya.
Beberapa laporan menyebut nama duta besar Lebanon untuk Washington Nada Mouawad atau mantan duta besar Simon Karam sebagai kandidat.
Meski membuka jalur diplomasi, Israel menegaskan tidak akan menghentikan serangan militer selama proses pembicaraan berlangsung.
Seorang pejabat Israel menyatakan negosiasi akan tetap berjalan “di bawah tembakan”, sementara Beirut justru meminta gencatan senjata sebagai prasyarat sebelum memulai dialog.
Seorang pejabat Amerika Serikat juga mengonfirmasi rencana pertemuan antara kedua negara di Washington dalam waktu dekat.
“Kami dapat mengonfirmasi bahwa Departemen Luar Negeri akan menyelenggarakan pertemuan minggu depan untuk membahas negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Israel dan Lebanon,” ungkap pejabat tersebut.
Pertemuan ini akan berlangsung setelah Amerika Serikat dan Iran membuka pembicaraan di Pakistan usai menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, meski terdapat perbedaan pandangan mengenai cakupan wilayah gencatan senjata tersebut.
Baca Juga: Lebanon Diserang Israel, Gencatan AS-Iran Terancam Gagal
Perbedaan sikap dan tekanan pasca serangan besar
Di tengah rencana negosiasi, perbedaan sikap masih terlihat dari berbagai pihak.
Anggota parlemen Hizbullah, Ali Fayyad, menolak negosiasi langsung dengan Israel dan menegaskan pemerintah Lebanon harus terlebih dahulu menuntut gencatan senjata, penarikan pasukan Israel, serta pemulangan pengungsi.
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut negosiasi langsung sebagai “satu-satunya solusi” atas krisis yang dihadapi negaranya.
Rencana pembicaraan ini muncul setelah serangan udara Israel yang menewaskan 303 orang dan melukai sekitar 1.150 lainnya di berbagai wilayah Lebanon, termasuk kawasan padat penduduk di Beirut.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di sejumlah lokasi untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan serta mengidentifikasi jenazah, termasuk melalui tes DNA.
Secara keseluruhan, jumlah korban sejak 2 Maret dilaporkan telah mencapai 1.888 orang tewas dan lebih dari 6.000 lainnya luka-luka.
Langkah menuju negosiasi langsung ini menjadi perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengingat kedua negara belum pernah memiliki hubungan diplomatik formal sepanjang sejarah Israel selama 78 tahun.
Baca Juga: Israel Klaim Bunuh Naim Qassem, Pemimpin Hizbullah

[…] Usai Tewaskan 303 Orang, Netanyahu Dorong Israel Negosiasi dengan Lebanon […]
[…] Usai Tewaskan 303 Orang, Netanyahu Dorong Israel Negosiasi dengan Lebanon […]