Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei di Tengah Ketegangan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, di tengah upaya menghidupkan kembali perundingan damai yang sempat terhenti akibat konflik di Timur Tengah.
Keinginan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara program “Pod Force One” yang dikutip New York Post pada Rabu (3/6/2026).
Trump mengatakan pertemuan dengan Mojtaba Khamenei masih mungkin terjadi, bergantung pada perkembangan situasi ke depan.
“Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan,” kata Trump, dikutip dari AFP.
Baca Juga: Deal Damai AS Dikaji Iran, Trump Bantah Negosiasi Mandek
Pernyataan itu muncul setelah hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas menyusul serangan Israel ke Lebanon saat masa gencatan senjata masih berlangsung.
Menurut laporan Axios, Trump menelepon Netanyahu pada Senin (1/6/2026) setelah Iran memutuskan menghentikan pembicaraan damai dengan Amerika Serikat.
Iran menyatakan hanya akan kembali ke meja perundingan apabila Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon dan Jalur Gaza.
Di tengah upaya Washington mengajak Iran kembali bernegosiasi, Israel kemudian membatalkan serangan udara ke Lebanon atas permintaan Trump.
Dalam percakapan yang disebut berlangsung dengan nada tinggi, Trump dikabarkan melontarkan kritik keras kepada Netanyahu.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut Trump memperingatkan Netanyahu bahwa serangan lanjutan ke Lebanon hanya akan membuat Israel semakin terisolasi di tingkat internasional.
“Kamu benar-benar gila, kamu akan berada di penjara kalau bukan karena saya. Saya menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” kata Trump kepada Netanyahu.
Baca Juga: Sejumlah Korban Luka-luka, Bandara Kuwait DIserang Drone
Sementara itu, Iran menghentikan sementara seluruh dialog dan negosiasi dengan mediator Amerika Serikat setelah berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon.
Keputusan tersebut dilaporkan kantor berita Iran, Tasnim, yang mengutip pernyataan tim perunding Iran.
“Mengingat kejahatan berkelanjutan rezim Zionis (Israel) di Lebanon dan mengingat bahwa Lebanon adalah salah satu prasyarat untuk gencatan senjata, dan gencatan senjata ini sekarang dilanggar di semua lini, termasuk Lebanon, tim perunding Iran menangguhkan dialog dan pertukaran teks melalui mediator,” lapor Tasnim.
Iran juga menegaskan penghentian seluruh operasi militer Israel di Jalur Gaza dan Lebanon menjadi syarat utama sebelum proses perundingan dapat dilanjutkan kembali.
