Bandara Kuwait Diserang Drone, Sejumlah Korban Luka-luka
Bandara Internasional Kuwait diserang drone pada Rabu (3/6/2026) pagi waktu setempat. Serangan tersebut mengakibatkan sejumlah orang mengalami luka-luka, sementara operasional penerbangan sempat terganggu dan dialihkan ke bandara lain.
Media pemerintah Kuwait melaporkan lalu lintas penerbangan di bandara sempat dihentikan sementara menyusul insiden tersebut. Serangan juga menyebabkan kerusakan parah pada Terminal 1 (T1) yang menjadi salah satu fasilitas utama di bandara tersebut.
Baca Juga: Rumah Kosong Menjamur, Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk dalam 5 Tahun
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Brigadir Jenderal Saud Abdulaziz Al-Otaibi, menyebut serangan itu berasal dari Iran.
“Agresi kriminal Iran yang mengakibatkan kerusakan material yang signifikan pada bangunan dan cedera,” kata Al-Otaibi.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir. Situasi memanas setelah serangan Amerika Serikat ke Pulau Qeshm, Iran, pada Selasa (2/6/2026).
Sebagai respons, pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan meluncurkan serangan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk pangkalan yang berada di Bahrain dan Kuwait.
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan sebagian besar serangan Iran gagal mencapai sasaran.
“Iran meluncurkan rudal balistik ke negara-negara tetangganya tetapi semuanya gagal mencapai sasaran,” kata CENTCOM.
Baca Juga: Khatib Al-Aqsa Sebut Ancaman, soal RUU Pembatasan Azan di Israel
Menurut keterangan tersebut, tiga rudal yang diarahkan ke Bahrain berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Amerika Serikat dan Bahrain. Adapun dua rudal yang ditembakkan ke Kuwait dilaporkan gagal mencapai target atau pecah di tengah perjalanan.
Serangan terhadap Bandara Internasional Kuwait menambah kekhawatiran atas meluasnya dampak konflik di kawasan Timur Tengah. Selain memengaruhi keamanan regional, eskalasi tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan dan mobilitas internasional di kawasan Teluk.
