Warga Mulai Tinggalkan Yen, Franc Swiss Jadi Pilihan Baru
Pelemahan franc Swiss menjadi konsekuensi tak terduga dari minimnya intervensi gabungan Amerika Serikat (AS) dan Jepang untuk menopang yen.
Kondisi ini justru memberikan angin segar bagi perusahaan dan pembuat kebijakan di Swiss.
Selama bertahun-tahun, mereka menghadapi tekanan dari franc yang terlalu kuat.
Mengutip Channel News Asia, Rabu (19/8/2026), franc Swiss masih 12 persen lebih kuat terhadap euro dibandingkan lima tahun lalu.
Meski begitu, mata uang tersebut belakangan mulai melemah.
Baca Juga: Pada Juli 2026, 1.028 Perusahaan Jepang Bangkrut
Diketahui, franc yang kuat selama ini menekan pertumbuhan ekonomi Swiss. Kondisi tersebut juga membuat produk ekspor negara itu menjadi lebih mahal.
Kekuatan franc didukung sejumlah faktor. Di antaranya surplus transaksi berjalan, kondisi keuangan publik yang sehat, inflasi rendah, serta aliran dana safe haven.
Investor Mulai Melirik Franc Swiss
Di pasar global, yen dan franc Swiss sama-sama dipengaruhi aktivitas carry trade valuta asing (valas).
Adapun carry trade merupakan peminjaman dana dalam mata uang berbunga rendah untuk kemudian diinvestasikan ke aset atau mata uang lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Dalam strategi ini, investor meminjam mata uang dengan suku bunga rendah. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli aset dengan imbal hasil lebih tinggi.
Yen selama ini menjadi salah satu mata uang pendanaan utama dalam strategi tersebut.
Namun, risiko intervensi Jepang membuat investor mulai berhati-hati. Kondisi ini mendorong sebagian modal beralih ke franc Swiss.
Manajer Portofolio Senior Neuberger Berman, Fredrik Repton, mengatakan bahwa kinerja franc yang baik membuat investor mulai mempertimbangkan mata uang tersebut.
“Pelaku pasar akan memikirkan tentang merotasi beberapa posisi pendanaan mereka. Jika Anda melihat kinerja euro-Swiss, itu mungkin lebih instruktif tentang bagaimana lingkungan pasar telah terbentuk,” papar Repton.
Saat ini, franc berada di sekitar 0,9385 terhadap euro. Level tersebut mendekati posisi terlemah dalam sekitar satu tahun.
Nilainya telah turun sekitar 4 persen dari level tertinggi 11 tahun pada Maret lalu. Saat itu, franc berada di sekitar 0,9 terhadap euro.
Franc juga melemah hampir 7 persen dari level tertinggi 11 tahun terhadap dolar AS pada Januari 2026.
Rabobank turut memperkirakan franc akan terus melemah. Bank asal Belanda itu menaikkan target 9 hingga 12 bulan pasangan euro/franc menjadi 0,95 dari sebelumnya 0,94.
Sementara itu, Kepala Pasar Global ING, Chris Turner, mengatakan intervensi Jepang baru-baru ini mendorong pelepasan posisi jual yen dalam jumlah besar.
Kondisi itu membuat posisi yen semakin mendekati franc sebagai mata uang pendanaan.
“Dibutuhkan banyak hal untuk beralih dari yen sebagai mata uang pendanaan, tetapi ada banyak hal di luar sana yang dapat menghilangkan kebiasaan orang-orang tersebut,” ungkap Turner.
Investor juga mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga Jepang.
Selain itu, muncul spekulasi bahwa Dana Investasi Pensiun Pemerintah (GPIF) Jepang dapat meningkatkan alokasi investasi domestik.
Kepala Strategi FX G10 Global BofA, Adarsh Sinha, menilai franc menjadi alternatif paling logis untuk menggantikan yen dalam strategi carry trade.
Baca Juga: Pangkalan Suriah Digempur Israel, Turkiye Langsung Murka
Saat ini, suku bunga Swiss berada di 0 persen. Sementara itu, suku bunga Jepang berada di 1 persen.
“Suku bunga Swiss tidak hanya lebih rendah dari yen Jepang, tetapi volatilitas franc juga lebih rendah,” ucapnya.
Pelemahan franc akibat meningkatnya penggunaan mata uang tersebut sebagai pendanaan carry trade juga dapat menguntungkan Bank Nasional Swiss (SNB).
Sebelumnya, SNB telah menyatakan siap melakukan intervensi jika diperlukan untuk melemahkan franc.
Chris Turner menilai perubahan tersebut sebenarnya sejalan dengan kepentingan Jepang dan Swiss.
“Orang Jepang menginginkan yen yang lebih kuat, orang Swiss menginginkan franc yang lebih lemah, jadi itu masuk akal,” pungkas dia.
