Korea Selatan Uji Rute Arktik ke Eropa, Rusia Disorot
Korea Selatan bersiap mengirim kapal kontainer uji coba menuju Eropa melalui rute Arktik pada Sabtu (22/8/2026). Langkah ini menjadi bagian dari ambisi Seoul mengembangkan jalur perdagangan yang lebih singkat sekaligus memperkuat posisi Pelabuhan Busan sebagai hub maritim global.
Namun, penggunaan Jalur Laut Utara atau North Sea Route (NSR) tidak lepas dari persoalan geopolitik. Sebagian rute tersebut berada dalam yurisdiksi Rusia sehingga pelayaran membutuhkan koordinasi dan izin dari Moskwa, sementara negara-negara Barat masih berupaya menekan Rusia akibat perang di Ukraina.
Seorang diplomat Eropa mengatakan kekhawatiran tersebut telah disampaikan langsung kepada pemerintah Korea Selatan.
“Kami ingin mengisolasi Rusia, kami tidak menginginkan keterlibatan dengan Rusia,” kata seorang diplomat Eropa, sebagaimana dilansir Reuters.
Selain persoalan diplomatik, para ahli juga memperingatkan adanya risiko sanksi internasional. Risiko itu dapat muncul apabila kapal Korea Selatan membutuhkan bantuan Rusia selama perjalanan, misalnya ketika terjebak es di kawasan Arktik.
Kementerian Samudra Korea Selatan dan Kementerian Luar Negeri Rusia belum memberikan tanggapan mengenai persoalan tersebut.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Danantara Siapkan Dividen BUMN untuk Cadangan APBN
Korea Selatan Bersaing dengan China di Arktik
Keinginan Seoul menguji rute Arktik juga didorong oleh meningkatnya aktivitas China di kawasan tersebut. Perusahaan pelayaran China, Sea Legend Shipping, bahkan berencana membuka layanan reguler pertama menuju Eropa melalui NSR.
Kondisi tersebut membuat Korea Selatan berupaya mengejar ketertinggalan agar tidak kehilangan peluang dalam pengembangan jalur perdagangan baru.
“China sudah mencoba mengamankan keunggulan sebagai penggerak pertama di rute ini, sehingga pelayaran Korea Selatan menjadi semakin mendesak,” ujar seorang pejabat kelompok operator kapal PanStar yang enggan disebutkan namanya.
Korea Selatan juga ingin mulai mengumpulkan pengalaman operasional dan data pelayaran Arktik. Langkah ini diperlukan apabila negara tersebut ingin mewujudkan target layanan komersial terjadwal pada 2030.
Ambisi tersebut sejalan dengan agenda Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, yang ingin menjadikan pelayaran Arktik sebagai salah satu pendorong transformasi Pelabuhan Busan menjadi pusat maritim global.
Dalam pelayaran uji coba ini, PanStar akan menggunakan kapal kontainer PanStar Acro berkapasitas 2.700 Twenty-Foot Equivalent Unit (TEU). Kapal yang dibeli dari HMM tersebut telah dimodifikasi agar mampu melakukan navigasi di kawasan kutub.
PanStar Acro akan diawaki 20 personel yang berasal dari Korea Selatan dan Indonesia.
Baca Juga: 1.028 Perusahaan Jepang Bangkrut pada Juli 2026
Rute Bisa Pangkas Waktu Perjalanan 35 Persen
Setelah berangkat dari Busan, kapal dijadwalkan singgah di Felixstowe, Inggris, kemudian Rotterdam, Belanda, dan Gdansk, Polandia, sebelum kembali ke Korea Selatan. Seluruh perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 40 hingga 45 hari.
PanStar menargetkan membawa sedikitnya 1.300 TEU kargo, mulai dari suku cadang kendaraan, makanan, hingga kosmetik. Kapal juga akan membawa kiriman dari China dan Jepang.
Pemilihan jadwal pelayaran dilakukan ketika kondisi es laut Arktik sedang berada pada titik yang relatif rendah. Pencairan es akibat pemanasan global membuat jalur tersebut semakin memungkinkan untuk dilalui kapal komersial selama musim panas.
“Sekitar bulan September, saat pelayaran ini utamanya berlangsung, es laut Arktik berada pada tingkat terendah dalam setahun, sehingga memungkinkan navigasi yang lebih aman,” tutur pejabat PanStar tersebut.
Kementerian Samudra Korea Selatan memperkirakan penggunaan rute Arktik dapat memangkas waktu perjalanan hingga 35 persen dibandingkan jalur tradisional melalui Terusan Suez. Perjalanan yang lebih singkat juga berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar.
Aktivitas pelayaran melalui NSR sendiri terus meningkat. Centre for High North Logistics mencatat jumlah transit naik dari 43 perjalanan pada 2022 menjadi 97 perjalanan pada 2024. Pada tahun lalu, tercatat 103 transit yang dilakukan oleh 88 kapal, dengan armada Rusia dan China mendominasi lalu lintas.
Meski demikian, kelayakan ekonomi rute tersebut masih menjadi tantangan. Kapal yang dapat beroperasi di kawasan Arktik memiliki keterbatasan ukuran, sementara biaya asuransi relatif tinggi.
Mantan perwira angkatan laut Hyewon Choi dalam studinya di jurnal Ocean Policy Research menyebut kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya transportasi per unit.
“Kami tidak bisa menggunakan NSR sepanjang tahun,” kata Choi.
Menurut dia, kapal kontainer praktis hanya dapat memanfaatkan jalur tersebut selama sekitar tiga bulan pada musim panas ketika lapisan es mencair. Dengan demikian, meski menawarkan perjalanan yang lebih singkat, NSR belum dapat sepenuhnya menggantikan jalur perdagangan tradisional menuju Eropa.
