AS-Kanada Perang Dagang Lagi, Trump Naikkan Tarif 50%
Hubungan perdagangan Amerika Serikat (AS) dan Kanada kembali memanas setelah perundingan kedua negara berakhir tanpa kesepakatan. Washington kemudian menerapkan tarif baru terhadap sejumlah produk asal Kanada, sementara Ottawa bersiap memberikan balasan.
Presiden AS Donald Trump bahkan melontarkan kritik keras terhadap Kanada. Melalui media sosial, Trump menuding Kanada ingin mendapatkan keuntungan seperti negara bagian AS tanpa benar-benar menjadi bagian dari Negeri Paman Sam.
“Kanada menginginkan keuntungan layaknya sebuah negara bagian AS, tanpa benar-benar menjadi bagian darinya!!!” tulis Trump.
Ia kemudian menuding Kanada selama bertahun-tahun telah mengenakan tarif tinggi terhadap produk pertanian AS.
Baca Juga : Prabowo Kerahkan 1.500 TNI dan 6 Atasi Karhutla
“Selama bertahun-tahun, mereka juga telah mengenakan tarif dalam jumlah sangat besar terhadap para petani hebat kita. Cukup sudah!!!” sambungnya.
AS Berlakukan Tarif 50 Persen untuk Barang Kanada
Eskalasi terbaru terjadi setelah pemerintah AS mulai memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap barang-barang Kanada dengan nilai sekitar US$20 miliar atau setara Rp360 triliun.
Pengenaan tarif tersebut menyasar beragam produk, mulai dari tongkat hoki hingga alat penekan lidah. Kebijakan Washington itu menjadi babak baru dalam ketegangan perdagangan antara dua negara yang selama ini memiliki hubungan ekonomi sangat erat.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan pemerintahnya tidak akan tinggal diam menghadapi kebijakan Trump.
“Anda sedang berperang ketika diserang, dan kami telah diserang,” ujar Carney kepada wartawan di Ottawa, seperti dikutip Reuters, Senin (24/8/2026).
“Kami tidak dapat menerima apa yang mereka tawarkan dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta,” lanjutnya.
Carney juga memastikan Kanada akan memberikan respons dengan menerapkan kebijakan tarif “dolar demi dolar” terhadap produk-produk AS.
Pungutan balasan tersebut diperkirakan mulai berlaku pada 8 September. Sejumlah barang asal AS yang berpotensi terdampak antara lain baja, produk susu, peralatan rumah tangga, dan barang elektronik.
Kanada Siapkan Balasan, AS Bela Kebijakan Trump
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer membela keputusan pemerintahan Trump untuk menaikkan tarif terhadap produk Kanada.
“Kami sudah cukup bersabar, jadi kami mengambil langkah balasan. Kepentingan kami adalah melindungi pekerja Amerika dan melindungi rantai pasokan Amerika,” kata Greer.
Namun, kebijakan tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pelaku usaha Kanada, terutama perusahaan kecil yang bergantung pada pasar AS.
Dan Kelly, Presiden Federasi Bisnis Independen Kanada, memperkirakan sekitar 40 persen eksportir kecil Kanada akan terkena dampak langsung dari kebijakan tarif tersebut.
Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir sepertiga pelaku usaha yang terdampak memperkirakan pendapatan mereka dapat turun hingga 50 persen atau lebih.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perang tarif tidak hanya berpotensi mengganggu hubungan perdagangan kedua negara, tetapi juga dapat menekan aktivitas bisnis dan pendapatan perusahaan.
Masa Depan USMCA Ikut Terancam
Eskalasi perdagangan AS dan Kanada juga berpotensi memengaruhi keberlangsungan United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA), pakta perdagangan yang melibatkan AS, Kanada, dan Meksiko.
Baca Juga : Prabowo Optimis Karhutla di Kalteng Segera Teratasi
Kesepakatan yang ditandatangani Trump pada periode pertama kepemimpinannya tersebut menjadi salah satu fondasi utama perdagangan Amerika Utara. USMCA mengatur perdagangan barang dan jasa dengan nilai sekitar US$2 triliun atau setara Rp36 kuadriliun setiap tahun.
Karena itu, kegagalan perundingan terbaru antara Washington dan Ottawa menjadi perhatian serius.
Carney bahkan menyebut kegagalan pembicaraan tersebut sebagai “jelas bukan kabar baik” bagi masa depan USMCA.
Jika ketegangan terus meningkat dan kedua negara semakin sering menggunakan tarif sebagai alat tekanan, stabilitas perdagangan Amerika Utara berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar.
